Durian – Pernak-perniknya di Thailand (bagian 2)

Durian di Thailand umunya ditanam di bagian timur (provinsi Chantaburi, Rayong dan Trat) dan di selatan Thailand (provinsi Chumphon). Buah ini banyak tersedia di pasar pada bulan Maret sampai Juni seperti saat ini. Tapi belakangan, stok durian di penjual buah di soi (gang) dekat tempat saya tinggal sudah habis.

Yang saya lihat di Bangkok, durian dijual tidak hanya di pasar atau di supermarket, tapi juga di soi (gang) dan di pinggir-pinggir jalan. Harga antara B30-B40 per kg (sekitar Rp. 9,000 – 12,000). Jenis yang banyak tersedia adalah Montong atau Morn Thong. Jenis ini memiliki aroma yang kuat dan rasa yang manis serta creamy.

Kalau saya beli durian di penjual buah di soi (gang) dekat tempat saya tinggal, saya tinggal bilang saya mau beli durian. Si penjual akan memilihkan buah mana yang matang dan dagingnya manis. Dia akan mengetuk kulit si buah duri dengan alat semacam penabuh drum dengan tangkai yang lentur. Buk, buk, buk. Kalau suara nyaring, berarti buah matang. Buah kemudian ditimbang, lalu si penjual akan membukakan kulitnya dan membungkus tiap segmen daging durian dengan kertas semacam kertas minyak. Mereka lalu dibungkus plastik, lalu saya membayar dan menentengnya pulang.

Hm, sepertinya orang Thailand jarang membeli durian utuh bersama kulitnya. Jadi ketika saya tanya rekan kantor saya, bagaimana ya, caranya menghilangkan bau durian yang menempel di tangan, mereka menjawab, dicuci dengan sabun saja. Ada cara yang lebih tradisional? Tidak.

Saya lalu bercerita, kalau orang Indonesia, setidaknya keluarga saya, memanfaatkan kulit durian yang telah dimakan buahnya untuk cuci tangan. Masukkan air ke dalam mangkok kulit kosong dan cuci tangan langsung di situ. Bau akan hilang. Praktis. O, begitu ya? Ya. Ini praktik biasa di keluarga saya kalau sedang ‘pesta’ durian (pestanya setahun sekali atau dua kali saja, melibatkan 2-3 buah durian yang diserbu 9 orang sekaligus; meski sedikit tetap saja kami gembira).

Forbidden

Ingat tentang ‘love-and-hate game’ terhadap durian di posting saya terdahulu? Tidak semua orang menganggap durian adalah buah surga. Beberapa orang sangat terganggu dengan bau durian dan menganggapnya sebagai buah dengan bau yang ‘mengerikan’.

Karena itulah, banyak hotel atau plasa yang memasang tanda durian yang dicoret, dilarang membawa durian, di pintu-pintu lift mereka. Dikhawatirkan, selain mengganggu tamu lain, bau durian menyebar dan hebatnya, menempel dan bertahan lama di ruangan yang tertutup. Coba anda menaruh durian matang dalam keadaan terbuka di dalam kulkas. Keesokan harinya mungkin seluruh isi kulkas akan beraroma durian.

Tapi tetap saja, segelintir tamu akan berusaha menyelundupkan durian ke kamar hotelnya dan menikmati daging buah legit ini di sofa hotel empuk, biasanya menggigit si durian sambil memejamkan mata.

Bagi mereka yang menyukai durian, mungkin juga akan menyukai keripik durian. Ternyata pengeripikan durian tidak hanya ada di Indonesia, tapi di Thailand juga. Tentu saja rasa dan aroma tidak seenak daging segarnya, tekstur juga tak selembut aslinya, tapi keripik ini alternatif lain menikmati durian tanpa mencemari udara sekitar dan cocok untuk oleh-oleh.

Raja yang Cinta Ratu

Pernah di suatu sore di tahun 2004, seorang pegawai negeri di Singburi tewas karena durian. Bukan karena kejatuhan durian, tapi karena memakannya. Dia memakan 4 durian dalam selang waktu yang tak lama. Kasus ini menjadi perhatian kementrian Kesehatan Publik Thailand yang mengingatkan masyarakat supaya lebih ‘sadar diri’ saat makan durian.

Ya, kadang penggila durian makan durian dalam kondisi ‘setengah sadar’, saking nikmatnya. Ada farang (orang asing) yang bercerita di internet. Saking cintanya (bukan karena benci) terhadap durian, dia bilang bahwa durian itu buah jahat. Dia bersumpah bahwa durian itu berasal dari planet lain. Durian itu obat bius dalam bentuk buah.

Di negaranya (uwak Sam), dia akan berkendara selama satu jam tiap hari Minggu menuju ke penjual durian langganannya. Dia juga mengatakan dia ‘memikirkan’ durian dalam tidurnya. Buah apa lagi yang bisa melakukan ini padanya? Nah, ini contoh orang yang terobsesi dan mungkin setengah waras. Orang macam ini harus lebih berhati-hati.

Durian Montong

Durian Montong

Mari kembali ke kasus tewasnya pegawai negeri di Singburi tadi. Hasil analisis terhadap durian menyebutkan bahwa durian mengandung kalori super. Kandungan kalori ini berbeda tergantung jenis duriannya, antara 129 – 181 kalori per 100 gram daging buah.

Ini artinya kalau kita makan durian Montong seberat 2 kg, kira-kira 600 gram setelah dikupas, kita mengonsumsi sebesar 900 kalori (kita anggap saja kandungannya 150 kal/100 gram). Memakan 4 buah sekaligus berarti menyuntik tambahan energi secara instan ke tubuh sebesar 3.600 kalori. Hampir dua kali kebutuhan kalori rata-rata orang dewasa per hari. Bisa dibayangkan betapa ‘kagetnya’ tubuh yang kemasukan kalori sebesar itu?

Orang Thailand memiliki kepercayaan tentang makanan ‘panas dan dingin’. Kalau kita makan makanan ‘panas’ seperti durian, dianjurkan untuk menutupnya dengan makanan atau buah ‘dingin’ seperti manggis, si Queen of Fruit. Ini dipercaya menghindari sakit perut dan menetralkan efek ‘panas’ durian. Ini adalah praktek tradisional yang juga dianjurkan kementrian Kesehatan Publik Thailand.

Mrs. “Pah Sawai Sam Bai Meun”

Tak diragukan lagi, hampir semua pecinta durian kenal Montong atau Morn Thong. Varitas ini terkenal karena harganya yang relatif terjangkau, tekstur daging dan rasanya, dan ukurannya yang maksi. Benar-benar menawarkan pengalaman yang sepadan terhadap uang yang dikeluarkan.

Durian ini juga menumpuk di rak di toko-toko buah, pasar-pasar, dan supermarket di Indonesia yang notabene juga penghasil durian. Jenis ini pula yang ditanam di kebun durian Warso di Bogor yang terkenal itu.

Tapi coba kita singkirkan si Montong sebentar dan kita tengok varietas lain yang ada di provinsi Nonthaburi, sebuah provinsi tak jauh dari Bangkok. Di sana ada varietas durian bertangkai panjang, Kan Yao. Apa yang menarik tentang Kan Yao? Harga yang selangit.

Di Festival Durian Nonthaburi tahun 2010 ini, Kan Yao dihargai B3,000 (hampir Rp. 900,000) per buah. Bombastis! Tapi lebih bombastis lagi, durian Kan Yao yang dihasilkan pekebun terkenal atau yang memenangi kompetisi durian, dihargai antara B6,000 – B10,000 (sekitar Rp. 1,8 juta – 3 juta) per buah. Fantastis!!

Khun Sawai (Kredit: Bangkokpost)

Khun Sawai (Kredit: Bangkokpost)

Salah seorang pekebun Kan Yao terkenal di Nonthaburi adalah seorang wanita berusia 79 tahun yang masih terlihat kuat di usianya, Khun Sawai Dasanewavaja. Dia mengatakan rasa durian Nonthaburi memang legendaris. Tak ada yang menyaingi kelezatannya. Konsumennya terbatas pecinta durian fanatik yang tentunya berkantong tebal.

Harga durian Kan Yao yang dipatok Khun Sawai paling tidak B3,000 per buah. Karenanya dia terkenal dengan sebutan “Pah Sawai Sam Bai Meun” yang artinya, Pah Sawai 3 untuk 10,000 (3 durian untuk B10,000).

Pecinta durian Nonthaburi yang setia bersedia untuk membayar mahal karena mereka percaya bahwa tekstur Kan Yao berbeda dan rasa jauh lebih nikmat dari varietas lain. Mereka menggambarkannya sebagai ‘lebih padat’, ‘lebih creamy’, dan ‘lebih lezat’ dibanding durian yang ditanam di provinsi lain.

Durian Kan Yao

Durian Kan Yao

Seorang hobiis, Khun Charuai Chantong, seperti dikutip Bangkokpost, berkata,”Saya bersedia membayar lebih. Tiap tahun saya pergi ke Nonthaburi di awal musim untuk membeli durian Kan Yao. Saya selalu datang ke pekebun yang sama yang tak pernah mengizinkan saya untuk menawar harga dan mencicip duriannya. Mereka adalah ahli. Mereka bisa memilihkan rasa yang tepat sesuai yang kita inginkan. Jadi saya pikir, saya membayar untuk kesetiaan dan keahlian mereka.”

Memang begitulah uniknya durian Kan Yao asal Nonthaburi ini. Di provinsi lain, kita membeli durian per kilogram, kita bisa menawar, dan kita bisa mencicip durian sebelum membeli. Di Nonthaburi, menawar berarti merusak kepercayaan. Durian dijual per buah utuh, tanpa ditimbang beratnya, yang berarti pembeli tidak diizinkan untuk mengintip dan mencicip, apalagi menawar harganya.

Well, terus terang, kalau saya memiliki uang sebanyak B3,000, mungkin saya akan berpikir untuk membeli sesuatu yang long lasting, dibanding untuk sebuah durian yang akan lenyap dalam seperempat jam. Anda?

About these ads

~ by syafnee on June 15, 2010.

6 Responses to “Durian – Pernak-perniknya di Thailand (bagian 2)”

  1. mas harga kan yao masih semahal itu sekarang? salam :)

  2. Apakah pohon durian Kan Yao adaptif (bisa berbuah dengan baik) jika di tanam di daerah Semarang (dtaran rendah 5 – 6 m dpl)?

    • saya kurang tahu tipikal kan yao, mas. yang saya tahu, kan yao di Thailand cuma ditanam di propinsi Nonthaburi. Bukan karena petani di propinsi lain tidak mencoba menanam, tapi kondisi iklim mikro dan tanah Nonthaburi lah yg paling cocok utk Kan Yao. jadi, apakah bisa ditanam di Semarang? kalau Semarang punya kondisi tanah dan iklim sama spt Nonthaburi, mk bisa ditanam di Smrg.

  3. makasih banget ya infonya mas….truss mas ada gak alternatif lain klo gk makan di hotel bisa makan ditempat lain mungkin…kaya di bali , saya biasa makan di alun alun kota bahkan dipinggir jalan? thx sblumnya ya mas

    • wah, banyak banget tmepat makan duren kalau sedang musimnya. di pinggir jalan Petchaburi di area Ratchatewi (dekat KBRI) sering ada yg jualan di pinggir jalan. durennya juga diecer begitu (i buah duren yg besar, dikupas dan dijual per juring). tempat lain: weekend market of Chatuchak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 41 other followers

%d bloggers like this: