Tiga bulan lalu nasib membawa saya ke Bangkok. Begitu tiba di bandara Suvarnabhumi, saya terkagum-kagum melihat tulisan dalam aksara Thai dimana-mana. Seandainya di Belanda, saya mungkin masih bisa membaca marka di papan petunjuk atau tajuk utama di surat kabar meski saya tak tau apa artinya. Tapi di sini, perasan yang mendadak muncul karena ’buta aksara’ membawa saya ke kegelisahan tersendiri di samping tak tahu arti tulisan-tulisan itu.

Untungnya, mereka memberi versi inggris untuk tiap tulisan Thai di papan-papan informasi. Namun nanti di perjalanan saya di negara ini, saya menemukan tempat yang membuat saya sama sekali buta huruf karena tidak ada sedikitpun terjemahan tulisan apapun dalam bahasa yang menggunakan aksara roman. Mungkin kalau saya sedang di Rusia atau Ceko, tulisan-tulisan masih bisa saya baca meski sulit. Namun di sini, bahkan saya tidak bisa mengenali yang mana ’Bangkok’ di papan jadwal di terminal bus di salah satu provinsi di Thailand, apalagi membacanya. Saya mungkin akan mengalami hal yang sama kalau saya berada di luar metropolitan di China, Korea atau Kamboja.

Dan, di sinilah saya sekarang. Saya tinggal di kamar apartemen, di sebuah gedung di Jalan Rama 4, tiga menit dari kantor dimana saya bekerja sekarang. Saya menghabiskan sebagian waktu saya di ruang sewaaan tersebut, yang berada sekitar 60 meter di atas permukaan tanah. Pemandangan dari balkon tidak mengecewakan. Sungai Chao Phraya, gedung tempat saya bekerja, dan gedung-gedung di sekitar Jalan Shukumvit yang terkenal masuk dalam bidang pandang. Pesta kembang api tahun baru di tengah kota juga bisa dinikmati dari sini.

Ini adalah pengalaman baru bagi saya tinggal sehari-hari di gedung tinggi (selain bekerja). Saat ini saya bekerja di sebuah kantor yang terletak di lantai 9 di sebuah gedung perkantoran berlantai 25. Jadi rata-rata di hari kerja, saya menghabiskan waktu 2-3 jam per hari berada tepat di atas tanah (0 meter) untuk : berjalan dari kamar ke kantor, makan siang, makan malam, kembali ke kamar. Lift adalah moda traspor vertikal yang menjadi sangat biasa sekarang dan karenanya tidak banyak kalori yang terbakar dengan pola hidup semacam ini.

Ada sedikit rasa khawatir tinggal sehari-hari di tempat tinggi semacam ini, mengingat saya berasal dari Indonesia dan punya cukup pengalaman gempa bumi di negara asal saat saya berada di gedung bertingkat. Tentu tiap orang tidak berharap sedang dalam tempat tinggi (dalam gedung) saat gempa terjadi, kecuali mereka yakin bahwa gedung itu punya teknologi antigempa yang canggih.

Saat gempa Tasikmalaya terjadi September 2008 lalu, saya berada di kantor (lantai 6) di Jakarta. Guncangannya tidak sangat keras, tapi cukup untuk membuat orang-orang panik untuk menggunakan lift saat evakuasi (seharusnya lift tidak diperbolehkan untuk digunakan saat gempa). Saat Padang diguncang gempa hampir sebulan kemudian, saya sedang berada di kantor (lantai 23) di Singapura. Getaran tidak keras tapi cukup bagi kami merasakan getarannya. Gempa adalah ancaman yang konstan bagi Indonesia. Siapapun tidak berharap berada di lokasi yang salah saat gempa mengguncang. Termasuk saya.

Kabar baiknya, Thailand secara geologis bukan negara yang endemik gempa. Meski pemerintah juga melakukan latihan evakuasi untuk gempa di beberapa provinsi terutama di utara (seperti Chiangmai), namun negara ini lebih menaruh perhatian pada masalah alam lain yang lebih rentan terjadi, seperti banjir, kekeringan, kebakaran, dan tanah longsor. Jadi untuk saat ini, hidup dan tinggal sehari-hari di gedung bertingkat masih bisa diterima.