Mungkin anda yang (pernah) tinggal di Thailand tahu hal ini: orang Thailand agak kesulitan melafalkan huruf S (terutama jika huruf S ini huruf mati di paling belakang sebuah kata) dan R. Bagaimana jadinya mereka melafalkan S dan R itu? S akan menjadi T dan R akan menjadi L di lidah mereka. Karenanya, hal-hal lucu kadang terjadi pada orang asing yang berbicara dengan orang Thai pada awal hubungan mereka.

Suatu hari di hari-hari awal saya tinggal di Bangkok, saya naik taksi dari KBRI ke apartemen. Saya bilang ke sopirnya dengan bahasa inggris sederhana, ”Khun, please go to Boss Tower.” Dia menjawab dalam bahasa Thailand yang sama sekali tak saya tahu artinya.

”To Boss Tower apartment,” ulang saya, berasumsi dia menanyakan lagi kemana tujuan saya.

“Where?” tanyanya, kali ini dalam bahasa inggris.

”Boss Tower apartment, on Rama four road, near chong sahm.” Yang terakhir saya sebut itu arti harfiahnya ‘channel three’, nama sebuah stasiun TV di Thailand yang gedungnya kebetulan bersebelahan dengan gedung dimana saya tinggal.

“Aaahh.. Bhot Thawe! Ok, ok!!” katanya.

Bhot Thawe??? Begitulah mereka mengucapkannya. Dan akhirnya saya tahu begitulah harusnya menyebut nama tempat saya tingal itu. S menjadi T dan R-nya lenyap. Satu contoh ini menunjukkan sekaligus krisis ucap S dan R itu.

Lalu, mereka akan mengucapkan kata-kata aroi (lezat) menjadi aloi, a rai (apa) menjadi a lai, dan banyak kata Thai lain yang R luruh menjadi L. Kita belum membicarakan kalau orang Thai berbahasa inggris.

Kasus berikut menunjukkan bahwa mereka agak enggan (kalau tidak mau disebut malas mengucap) ada R di sebuah kata. Umumnya laki-laki harus menutup kalimat ucapnya dengan ’khrap’ dan wanita dengan ’kha’. Kata ’khrap’ dan ’kha’ ini sebagai penyopan yang dalam konteks lain juga berarti ’ya’. Tapi pria Thai akan mengucapkan ”bla bla bla…, khap”. Huruf R tak terdengar.

Berikut cerita percakapan antara saya dengan rekan kerja di kantor yang akhirnya saya kategorikan sebagai lucu. Ini menjadi lucu karena percakapan terjadi di saat saya belum punya pengetahuan bagaimana orang Thai berbahasa dan diperparah oleh dua kondisi:

1. Saya belum betul-betul sadar bahwa orang Thai sulit melafalkan huruf R.

2. Dalam tanggung jawab baru saya di kantor ini, saya belum punya banyak pengetahuan dalam topik yang kami bicarakan (tentang pemeliharaan kontainer).

Kolega ini seorang Thai tulen dan bertugas di bagian logistik yang dalam perusahaan kami berarti yang bertugas mengurus pergerakan dan pemeliharaan kontainer kosong yang akan digunakan untuk ekspor. Suatu hari kami mendiskusikan tentang biaya perbaikan kontainer yang ditagih depo kontainer (perusahaan lain yang menyediakan lahan tempat kami menyimpan kontainer kosong dan yang memperbaiki kontainer kami jika ada kerusakan) kepada perusahaan kami.

Begini potongan dialognya yang, tentu saja, kami lakukan dalam bahasa inggris.

”So this time, for what repair do they charge us, Khun Vich?”

“There are several problem, Pak….,” jawabnya. Seluruh R dalam kalimatnya terdengar samar-samar. Bicaranya agak terbata-bata, tapi saya mengerti.

Dia melajutkan, ”……mmm, they charge us for….,” terputus di sini. Dia mencari-cari kata yang tepat dalam bahasa inggris untuk apa yang dia maksud. Saya dengan sabar menunggu.

”…. semall splintel…..” Mungkin saya mengerti, small splinter (serpihan kecil). Saya berpikir mungkin ini jenis kerusakan dimana lantai kayu kontainer sedikit tercerabut.

”… semall den….” Hmm.. ya, mungkin yang dimaksud adalah small dent, penyok kecil di salah satu bagian kotnainer.

”…and… lust, Pak…,” tutup Khun Vich.

”Sorry… lust?” tanya saya lagi memastikan yang saya dengar benar.

”yes… LUST, Pak!” jawabnya mantap.

”Lust?? wah ini luarrr biasa… apa urusan syahwat manusia dengan kontainer, ya?” batin saya.

”What kind of damage is that, Khun?” saya bertanya sambil menyipitkan mata dan mengerutkan dahi. Pada titik ini saya tidak curiga bahwa yang dimaksud sebenarnya adalah kata lain.

“Lust, Pak, you don know? LUST… arl-yu-es-ti”, dia berinisiatif mengeja kata itu.

”Oh! RUST!! You mean RRRUST??” nada dan kedua alis saya sedikit meninggi saat menekan huruf R-nya jelas-jelas, menyadari bahwa yang dimaksud adalah ‘karat’ pada kontainer.

“Yes, Pak, LRLLUST…………” Weleh… weleh…. weleh… Saya pun terbahak-bahak di depannya. Gagal pisan, sekeras apa pun dia mencoba.

Wassalam.