Saya lihat siluet duri-duri di dinding tenda saya yang menghadap lokasi kemah utama di mana sebuah tenda memasang lampu petromaks yang cahayanya samar menyentuh tenda saya. Cahaya petromaks ini mengenai si landak di luar situ dan membentuk bayangan siluet di dalam sini. Saya hanya diam mengamati gerak-gerik siluet hewan duri itu. Tak tampak bayangan anggota keluarga lain. Tak lama, siluet duri-duri itu menghilang. Saya pun berbaring kembali. Luar biasa pengalaman malam ini.

Keesokan paginya, setelah sholat di dekat tenda di naungan pepohonan, mendapati suasana pagi yang tenang dan menyegarkan. Kabut masih tersisa di atas tajuk hutan di kejauhan. Beberapa spesies yang sudah mulai aktif antara lain burung dan monyet. Si rusa besar yang kemarin sore dan malam saya lihat juga sedang asyik merumput di dekat perkemahan.

Jam 7 pagi, toko kecil penjual makanan dan minuman buka. Ini tipikal taman nasional di Thailand, hampir selalu ada toko kecil permanen, bukan tenda, yang menyediakan kebutuhan camper atau trekker, terutama makanan dan minuman. Saya membeli mi instan yang dikemas dalam gelas plastik, 3 batang wafer coklat dan sebotol air minum. 

Rusa Jinak di Campsite

Rusa Jinak di Campsite

Selesai sarapan mi instan yang saya seduh di toko kecil tadi, saya mulai berkemas. Trekking harus segera dimulai, sebelum orang-orang lain juga memulainya. Semakin sedikit Homo sapiens di hutan yang akan saya seberangi, makin baik. Saya ingin merasakan ketenangan hutan sekaligus keributan alaminya.

Semua barang saya masukkan dalam carrier 35 liter hijau tua saya, kecuali tenda. Tenda saya biarkan tetap ditempatnya dan saya pikir saya akan kembali campsite lagi nanti. Jam 07.39 saya mulai bergerak memasuki hutan. Trail di awal memasuki hutan disemen. Mungkin maksud pengelola taman nasional, trail semen ini memudahkan trekker berjalan di lantai hutan yang berlumpur dan licin saat musim hujan. Tapi saya tak menyukainya. Ini seperti berjalan di kebun raya, bukan hutan.

Udara pagi di tengah hutan benar-benar mengasyikkan. Apalagi baru lima menit saya berjalan, sudah tampak sungai si sebelah kanan trek. Menakjubkan! Pada bagian ini, sungai yang berlebar kira-kira 10 meter ini mengalir tenang. Airnya berwarna gelap dan tepinya sedikit berlumpur. Saya berjalan lagi setelah berhenti sejenak mengamati sungai ini. Sepertinya ini adalah terusan sungai yang melewati kantor pusat taman nasional yang saya lihat sehari sebelumnya. Tipikal aliran, warna air, dan habitat kanan-kirinya mirip.

 
 

Sungai Sepanjang Trail

Sungai Sepanjang Trail

Saya segera mengetahui bahwa trail ini memanjang sejajar sungai, searah aliran airnya. Tak lama, saya menemukan bagian sungai yang berbatu-batu dan beberapa pohon tumbang menjorok ketengah sungai dari tepinya. Tempat yang sempurna untuk berhenti dan mengeksplor sungai ini.

Saat merayap pelan menapaki batang pohon berdiameter 40 cm yang tumbang mungkin berbulan-bulan lalu dan menjorok ke tengah sungai, saya terhenti saat melihat sesuatu yang kecil berwarna hitam, di atas batang pohon yang sama di sebelah sana. Lalu saya mendekati benda itu. Sebuah soft-case bermagnet berwarna hitam terbuat dari kulit buatan. Isinya? Sebuah handphone ber-casing putih. Seesorang tak sadar telah menjatuhkannya di sini, di atas batang pohon tumbang di atas air. Beruntung benda ini tak jatuh ke air.

Saya lalu memeriksa telpon genggam putih itu. Homepage-nya bergambar kartun yang seluruh tulisan di panelnya beraksara Thailand. Great! Saya tak bisa membacanya! Saya lalu menggunakan  telpon temuan itu untuk menelpon handphone saya, lalu saya menyimpan nomor telpon tersebut. Tak mau membuang waktu terlalu lama di satu tempat, saya lalu memutuskan untuk mengantongi telpon genggam itu dan akan mencari cara menghubungi pemilik nanti selesai saya menapaki trail ini. Beruntung kalau si pemilik menelpon telponnya yang hilang ini dan saya bisa menemuinya. Yang jelas, telponnya berada di tangan yang tepat sekarang.

 
 

HP Hilang di Tengah Hutan

HP Hilang di Tengah Hutan

Setelah berdiri sejenak di atas batang pohon di atas sungai itu, saya melanjutkan perjalanan menyusuri bahu sungai. Suasana berganti dari hutan tanaman keras dan semak-semak menjadi rumpun bambu dan trail mulai sedikit menjauh dari sungai. Uniknya, rumpun-rumpun bambu itu berdiri condong ke arah yang sama, ke kanan saya, seperti telah ditiup angin kencang. Beberapa batangnya terkoyak dan patah hingga separuh ujung batangnya rebah ke tanah. Perbuatan para chang (gajah)?

Sedang memikirkan kemungkinan bahwa itu adalah hasil aktivitas gajah yang memang hidup bebas di taman nasional itu, tiba-tiba saya dikejutkan oleh sesuatu yang diam di tengah jalan lumpur. Oya, sejak beberapa menit lalu, jalan setapak ini sudah tak bersemen lagi, tapi jalan alam berlumpur yang pada saat itu agak licin karena sehari sebelumnya tersiram gerimis. Ada gundukan berwarna coklat kehijauan di depan sana. Saya lalu memeriksanya. Tak salah lagi: pup gajah! Ini adalah pup gajah segar pertama yang saya temui di alam liar. Tidak bisa tidak, saya menembaknya dengan kamera digital saya.

Memikirkan bahwa ada sekawanan gajah liar yang mungkin berada di dekat situ membuat saya sedikit tegang. Gajah memiliki penciuman yang tajam dan serangannya terhadap manusia bisa mematikan. Saya pernah melihat video di internet yang adegannya: seekor gajah Kao Yai berlari di jalan aspal taman nasional itu, mengejar sebuah mobil yang dinaiki seorang yang merekam gajah yang mengejarnya itu. Itu pasti kejadian spontan karena si perekam juga terdengar panik dan kameranya berguncang-guncang.

Pup Gajah

Pup Gajah

Saya berlutut diam di atas pup gajah itu, dan dengan gaya serius bak seorang ahli binatang di Afrika, saya mulai membuat perkiraan. Gumpalan berserat-serat ini berwarna coklat tua bersemu hijau samar. Kotoran ini tak segar, mungkin berusia sehari maksimal dua hari. Si pemilik mungkin telah jauh dari sini. Dari ukuran pup, ukuran gajah yang sakit perut itu mungkin tanggung, bukan gajah dewasa. Lalu, saya memandang sekeliling dan mendengar dengan seksama kalau-kalau ada suara-suara kawanan gajah. Tak ada apa-apa; hanya suara burung di kejauhan. Baiklah, waktunya bergerak lagi, sekarang dengan waspada.

Perjalanan berlanjut di tengah hutan yang lebat dan trail masih tak jauh dari bahu sungai. Jalan setapak terkadang jatuh dengan curamnya dan membuat saya harus melaluinya dengan tangan menapak di tanah atau berpegangan ke akar pohon yang mencuat. Makin menarik. Dan makin menarik lagi saat akhirnya saya melihat papan coklat bertulisan kuning yang mengatakan:  ‘BEWARE OF CROCODILE’ dan ‘NO SWIMMING’.

Aha, ini dia teritori reptil purba yang memiliki reputasi buruk itu! Perasaan saya bercampur antara gembira dan tegang. Saya tak pernah melihat buaya di alam aslinya. Apakah saya akan melihatnya di sini? Sebuah pengalaman yang luar biasa kalau saya menemuinya. Tapi bagaimana kalau saya tak melihatnya tapi dia yang melihat saya terlebih dulu? Lalu dia mengendap-endap dan menyamar menjadi sebatang kayu mati? Apakah dia akan menjadikan kaki saya sarapannya? Tapi semua ini terlalu mengasyikkan. Saya bergerak dan berharap melihat salah satu anggota keluarga Crocodylidae ini.

 

Peringatan Serius

Peringatan Serius

Yang saya lakukan adalah mengurangi kecepatan berjalan, merendahkan tubuh dan melangkah setengah mengendap-endap, mengamati dengan seksama bagian kanan jalan setapak yang dekat dengan sungai. Akankah tiba-tiba sebatang kayu bergerigi yang mati tiba-tiba hidup dan menyergap saya? Walaupun saya hampir merasa yakin bahwa hanya sedikit orang yang pernah melihat buaya di sini dan areal ini relatif aman, tapi saya menikmati kemungkinan-kemungkinan fiktif yang saya ciptakan di pikiran saya itu.

Paling tidak ada dua keuntungan dari pemikiran-pemikiran tentang ‘batang kayu yang tiba-tiba melompat’, ‘batang kayu bermata yang mengapung di permukaan air’, atau ‘mulut bergigi purba yang menganga di tengah jalan’ ini. Pertama, saya jadi lebih waspada (saya baru pertama ke hutan ini dan tak ada ranger yang mengawal saya); dan kedua, ini membuat perjalanan ini makin menarik, seperti menaiki roller coaster. Adrenalin, itulah intinya. Kadang adrenalin tak hanya muncul karena apa yang terjadi, tapi karena apa yang kita pikirkan.

Teritori buaya ini cukup panjang. Sejak papan peringatan tadi, ada tali tampar putih berdiamater 1,5 cm yang dipasang di sepanjang trail, di sebelah kanan. Tampaknya tali ini adalah peringatan bahwa trekker tak boleh keluar dari trail dan mendekati sungai. Kawasan berpohon dan bersemak antara jalan setapak dan sungai adalah teritori buaya.

Tali Teritori Buaya

Tali Teritori Buaya

Hampir setengah jam saya menyusuri jalan setapak bertali putih itu, tapi tak seekorpun buaya yang tampak. Agak mengecewakan.

Dari kejauhan saya dengar suara-suara. Sepertinya primata entah dari jenis apa. Saya menunduk dan melihat ceceran buah lamtoro, semacam petai tapi kecil, muda berwarna hijau yang koyak-koyak. Tiba-tiba.. pluk! Salah satu buah itu mengenai kepala saya.  Lalu beberapa buah lagi jatuh di dekat saya. Saya menengadah mencari-cari pelakunya.

Pohon-pohon di sekitar bagian hutan ini tinggi-tinggi. Saya melihat bayangan-bayangan gelap berlompatan di ujung teratas pepohonan itu. Tak jelas spesies apa itu. Sepertinya sebangsa monyet yang sedang sarapan. Atau sengaja melempari saya dengan lamtoro untuk mengusir saya? Saya melanjutkan perjalanan.

Tiba-tiba, dan sangat mengejutkan, saya mendengar suara erangan yang samar. Meski samar, tapi erangan itu membuat saya berhenti total dan diam mematung. Saya mendengarkan dengan seksama lagi. Erangan yang setengah dengusan atau dengkuran itu terdengar konstan dan kasar. Saya pernah mendengar suara seperti ini di dekat kandang macan di kebun binatang. Saya memandang sekeliling. Apakah itu suara macan? Apakah saya dalam masalah?

Entah apakah saya punya alasan untuk berpikir bahwa itu adalah dengkuran nafas harimau. Di beberapa taman nasional lain yang pernah saya kungjungi, harimau adalah spesies yang juga menghuni hutan taman nasional itu. Di sini? Well, kenapa tidak? Kalaupun tak ada macan, kucing besar biasa ditemui di taman-taman nasional di Thailand. Oke, ini lebih menegangkan daripada bagian buaya tadi, kata saya dalam hati.

Saya mulai merendahkan tubuh lagi, berjalan sangat pelan, takut kaki saya yang berlapis sandal gunung menginjak ranting kering dan menarik perhatian si macan. Saya sedemikian waspada karena suara itu benar-benar dekat.  Cukup dekat untuk membuat saya mengeluarkan pisau lipat dan bersiap untuk kemungkinan terburuk. 

Saya mengendap-endap pelan… pelan… Satu meter, dua meter, lima meter…. suara itu masih mengikuti tapi lebih pelan sekarang. Sepuluh meter… suara itu makin samar. Dan setelah tak terdengar lagi, saya mulai berjalan tegak lagi. Fiuhh.. saya lepas dari mulut macan. Atau itu suara binatang lain? Atau itu bukan suara binatang? Tak tahulah. Tapi bagian tadi cukup seru dan menegangkan.

Hampir dua jam saya berjalan di tengah hutan yang menarik ini. Di beberapa bagian perjalanan, saya beristirahat sebentar dan duduk-duduk di batu-batu kali di sungai yang berair gelap ini. Bahkan saya juga berimprovisasi untuk keluar trail dan berjalan tepat di sungai yang berbatu-batu. Saya melompat-lompat dari batu ke batu di tengah gemericik air. Sesekali saya berhenti dan merebahkan badan di atas lempeng batu besar yang rata tapi miring.

 
 

Sungai Berbatu - Walkable

Sungai Berbatu - Walkable

Setelah sekitar duapuluh menit melompat-lompat dan duduk-duduk di atas bebatuan sungai, batu-batu mulai menghilang dari sungai dan di depan terpampang danau yang permukaannya tenang. Ini bukan danau, tapi bagian sungai yang dalam. Saatnya saya keluar dari sungai dan masuk ke trek hutan. 

Akhirnya saya mendapati sungai yang dangkal dan berbatu-batu lagi. Areal tepi sungai ini lebih terbuka dan luas. Saya lihat ada bangunan di situ. Ternyata ini adalah ujung dari trail yang saya lewati tadi.

Saya lihat jam tangan, 09.32. Hanya 2 jam trekking dan trail habis di sini. Sebenarnya saya berharap trail itu lebih panjang karena hutan ini cantik dan seperti yang saya ceritakan, menyimpan beberapa kejutan. Saya lalu berjalan menjauhi tepi sungai menyusuri jalan setapak. Sebentar kemudian saya menemukan lapangan parkir beraspal dan warung makan.

Saya memutuskan untuk mampir ke warung makan untuk sarapan dulu. Menu survival? Nasi putih dan somtam. Heran juga, somtam ini sejauh yang saya amati  dan alami, adalah menu paling tersedia hampir dimana pun di Thailand, bahkan di tengah hutan seperti ini. Yang sungguh saya syukuri adalah saya menyukai somtam: makanan yang banyak tersedia dan tak mengandung bahan-bahan yang zatnya tak halal. Jadi survival di Thailand menjadi mudah bagi saya.

Selesai sarapan seharga 40 baht (termasuk minuman the botolan), saya melangkah menuju air terjun yang ternyata bernama “Haew  Suwat”. Air terjun terletak tak jauh dari warung makan dan tempat parkir, di bawah sana. Saya harus menuruni tangga beton menuju ke air terjun yang dari atas terlihat cantik ini. Apakah dari dekat akan terlihat lebih cantik? Saya akan segera mengetahuinya.

 
 

Air Terjun Haew Suwat

Air Terjun Haew Suwat

Hanya beberapa menit, saya sudah berhadapan dengan pemandangan menawan: air terjun tinggi dengan kolam yang dikelilingi tebing dan bebatuan besar. Tinggi air terjun ini sekitar 15 meter dan dilatarbelakangi dinding batu besar yang bersih dari vegetasi. Di belakang tempat jatuhnya air, dinding batu itu cekung ke dalam membentuk gua dangkal.

Suara air yang terjun deras, kolam yang beriak, bebatuan besar disekeliling kolam, pepohonan, gua dan retakan dinding batu, dan cahaya matahari pukul 10 pagi yang menyiram mereka membentuk panorama yang indah. Dan yang lebih mengsyikkan, tak banyak pengunjung di air terjun itu. Dan ini membuat semua tampak lebih liar, lebih alami.

Saya mengambil  kesempatan untuk memotret air terjun dari arah depan beberapa menit lalu melompat dari batu ke batu mendekati tempat jatuhnya air. Di sana saya melihat gua dangkal itu: berdinding batu dan beralas pasir yang nyaris putih. Antara dasar pasir dan dinding itu berjejer kayu-kayu kering yang disusun berdiri, entah siapa yang menyusunnya dan untuk tujuan apa. Itu masih jadi pertanyaan buat saya hingga sekarang.

 
 

Deretan Ranting

Deretan Ranting

Hampir satu jam saya duduk-duduk, berkeliling, dan mengambil foto dengan tripod di sekitar air terjun ini. Waktunya untuk meneruskan perjalanan. Saya melihat papan yang menunjukkan ada air terjun lagi bernama Haew Sai ke arah yang searah dengan arus sugai dari air terjun Haew Suwat. Kelihatannya tak ada pengunjung menuju ke air terjun ini. Beberapa pengunjung yang baru datang akan berbelok turun ke air terjun Haew Suwat, tidak lurus ke Haew Sai.

Saya mengikuti trail yang tersedia dan lima belas menit kemudian sebuah papan petunjuk menyuruh saya berbelok ke kanan. Ini berarti menuruni punggung bukit ke arah sungai. Tak ada tangga beton. Semua alami. Sekitar trail setapak yang menurun curam itu ditutupi rumpun bambu dan pepohonan menahun berdaun lebat. Tak ada orang lain sejauh ini.

Beberapa menit kemudian saya tiba di pinggir sungai yang airnya dangkal dan dasarnya berbatu. Di sebelah kanan saya ada air terjun yang tak tinggi, sekitar 3 meter dan pola terjunnya melebar, tak seperti Haew Suwat yang tubuh air terjunnya memusat dan lebarnya hanya 1-2 meter. Inilah Haew Sai, saya menyimpulkan.

 
 

Air Terjun Haew Sai

Air Terjun Haew Sai

Tak ada orang lain di situ. Saya memandang sekeliling dan mendapati bahwa suasananya relatif liar dengan pinggir sungai tertutup daun-daun kering dan redup ternaungi tajuk pepohonan. Ada kesan ‘berbahaya’ yang tipis yang saya rasakan di sini.

Ketika asyik mengamati sekitar air terjun dan memikirkan kemungkinan bahwa sedikit sekali orang yang datang ke tempat ini, tiba-tiba mata saya menangkap sesuatu yang biru, sesuatu yang tak alami, di pangkal pohon di sana. Setelab saya mendekat, saya mendapati sebuah celana pendek biru bermotif kartun. Hm, pasti celana anak laki-laki.

Yang saya pikirkan pertama kali adalah sebuah kemungkinan yang menegangkan. Saya membuat dugaan bahwa itu mungkin adalah celana seorang anak laki-laki sekitar 12 tahunan yang dilepas sebelum dia berenang di sungai yang lalu hanyut dan hilang meninggalkan celananya sebagai barang bukti. Cerita berlanjut ke posting bagian 3, bagian terakhir dari 3 tulisan.

Celana Anak Hilang?

Celana Anak Hilang?

 

Read also:

Khao Yai – Keluarga Landak (bagian 1/3)

Khao Yai – Hercule Poirot dan Clark Kent (bagian 3/3)