Erawan memang air terjun tercantik yang pernah saya lihat. Kaen Krachan National Park memberi pemandangan bentang lautan kabut pagi yang spektakuler. Tapi sejauh ini, menurut saya, ini lah tempat paling berkesan di Thailand bagi saya sejauh ini: Khao Yai National Park. Hampir selalu ada kejutan selama saya berjalan di salah satu trail natural taman nasional terbesar Thailand ini. Dan yang terbaik dari semua, di sinilah tempat saya melihat dari dekat ragam spesies binatang di alam liar lebih banyak dari dua National Park lain yang pernah saya kunjungi di negara ini.

Setelah mengemas barang-barang, termasuk tenda, dalam carrier, saya berangkat pagi-pagi dari Mo Cit Northern Bus terminal di Bangkok dengan bis kelas dua, ber-AC tapi tak ber-toilet, tujuan Nakhon Ratchasima (ibukota provinsi dengan nama sama) berongkos 109 baht. Untuk ke Khao Yai National Park, saya akan turun di kota Pak Chong (70 km sebelum kota Nakhon Ratchasima), sekitar 2,5 jam dari Bangkok. 

Bis Bangkok - Nakhon Ratchasima (Ratsim)

Bis Bangkok - Nakhon Ratchasima (Ratsim)

Siapa mengira di bis akan bertemu dengan petinju yang pernah meraih medali emas di Asian Games 1998? Di tengah perjalanan, bis berhenti di sebuah kota (saya tak tahu namanya, mereka tak menulis nama terminal dalam tulisan roman). Di sinilah pria ini naik bis yang saya tumpangi dan mengambil tempat duduk kosong di sebelah saya.

Bis bergerak kembali di jalanan. Kondektur mendekat dan pria ini menyebut ‘Pak Chong’ sambil mengangsurkan ongkos ke si kondektur. “Aha, orang ini ke Pak Chong juga, saya punya petunjuk sekarang,” kata saya dalam hati. Saya khawatir saya akan melewati Pak Chong tanpa tahu saya telah melewatkannya. Saya pun berinisiatif bertanya pada pria ini.

Kun pai Pak Chong, mai?” tanya saya dalam bahasa Thai. “Apakah anda ke Pak Chong?”

Chai kap,” jawabnya. “Ya.” Selanjutnya serentetan kata-kata Thai meluncur cepat darinya dan saya tak mengerti. Jelas dia mengira saya seorang Thai.

Sorry, poot Thai nitnoy. Phom mai kao jan,” sahut saya dalam bahasa campuran yang agak berantakan. “Maaf, saya bicara bahasa Thai sedikit. Saya tak mengerti.”

Saya benar-benar tak berharap sebelumnya akan berbicara banyak dengan seseorang, apalagi orang Thai, di bis ini, karena keterbatasan bahasa Thai saya dan kemungkinan besar keterbatasan bahasa inggris mereka. Tapi pria ini berbicara bahasa inggris cukup baik. Dan saya pun berbincang dengannya.

Dia bertanya tentang saya; nama saya, darimana asal saya, akan kemana, apa yang saya lakukan di Thailand. Ketika saya bilang bahwa saya dari Indonesia, dia berseru ‘oohh!’ sambil mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Dia mengatakan pernah ke Jakarta sebelumnya untuk mendampingi tim tinju amatir Thailand bertanding di Jakarta. Dia menyukai Jakarta, katanya.

Kami lalu menemukan beberapa keterkaitan. Saya bercerita saya pernah ke Khon Kaen, dan ternyata ini adalah provinsi asalnya. Saya juga bercerita saya pernah ke Kaen Krachan National Park, dia bilang juga baru saja kesana untuk training tinju. Perbincangan pun berlanjut.

Pria tigapuluhan yang mungkin berbobot 60-an kg dan mengenalkan diri sebagai Suban Pannon ini bercerita tentang perjalanan tinjunya. Dulu dia adalah petarung Thai boxing yang kemudian beralih ke tinju reguler. Dia bercerita, dengan bahasa inggris patah-patah, bahwa dia pernah ke banyak negara. Negara yang pernah di kunjunginya antara lain Amerika, Rusia, Cina, Qatar, dan sebagian besar negara-negara Asia Tenggara. Semuanya untuk bertinju.

Selama berbicara atau ketika diam di sela-sela perbincangan kami, gerak-geriknya lincah khas petinju kelas ringan ketika bertinju di ring. Bahasa tubuh dan cara bicaranya ekspresif. Ketika akan memulai perbincangan baru setelah beberapa saat diam, sikut kirinya akan bergerak menyikut ringan lengan kanan saya (dia duduk sebelah kanan saya). Mungkin ini juga gerakan khas petinju ketika berbincang bersampingan begini, pikir saya.

Dalam hati, saya bertanya apakah benar saya sedang duduk dalam bis berdampingan dengan seorang Thai yang punya karir bertinju setinggi ini. Di ujung perbincangan kami, dia menarik bolpoin dari dalam tas olahraganya, meminta kertas peta Khao Yai yang sedari tadi saya pegang, dan menuliskan sesuatu di atasnya.

Here, search in gugel my name, and you find me there,” katanya. Di kertas itu tertulis: ‘Suban Pannon – boxing team Thailand’. Dua hari kemudian, tentu saja setelah saya kembali ke Bangkok, saya menemukan nama pria ini dibahas khusus oleh Wikipedia, menceritakan siapa Suban Pannon ini dan karir bertinjunya. Apa pun yang Suban katakan di bis waktu itu bukan isapan jempol.

Tepat sebelum memasuki Pak Chong, dia turun dari bis. Ini pertanda bahwa terminal bis Pak Chong tak jauh lagi. Lima belas menit kemudian, kondektur wanita (yang dari awal membuat saya berpikir bagaimana bisa wanita setua ini bekerja sebagai kondektur; usianya mungkin sekitar 50-an lebih, berkacamata tebal dan bertali melingkari lehernya) menatap saya dan melambai-lambai. “Pak Chong!,” serunya. Saya pun turun.

Songthaew Truk Pak Chong - Khao Yai

Songthaew Truk Pak Chong - Khao Yai

Moda berikutnya menuju pintu gerbang Khao Yai National Park adalah songtheaw. Songtheaw tidak menunggu penumpang di terminal di mana bis yang saya tumpangi berhenti (lagipula, ini bukan terminal sesungguhnya, karena bis hanya berhenti di pinggir jalan, tak ada terminal). Saya diberitahu untuk berjalan kembali ke arah darimana bis datang, sekitar 100 meter, dan di situlah songtheaw ke Khao Yai biasa menunggu penumpang. Saya pun berjalan ke arah yang ditunjuk.

Saya pernah beberapa kali menumpang songtheaw. Moda berupa pickup yang baknya dimodifikasi untuk penumpang (bangku memanjang berhadapan dan beratap). Tapi songtheaw ini lebih besar dari yang pernah saya tumpangi. Ini truk, bukan lagi pickup. Ukuran jumbonya cukup untuk mengangkut 25 orang dewasa, perkiraan saya. Saya melompat ke atasnya. 

Perjalanan Pak Chong ke pintu masuk Khao Yai National Park dari ditempuh selama 45 menit dan ongkos 50 baht. Setiba di sana, saya lihat jam tangan saya, 02.20 sore. Pintu masuk ini adalah tempat perhentian terakhir songtheaw truk ini dan tempat turis membayar uang masuk ke taman nasional. Informasi penting: songtheaw terakhir berangkat dari pintu masuk taman nasional Khao Yai  ke Pak Chong pukul 3 sore.

Pintu Masuk Khao Yai National Park

Pintu Masuk Khao Yai National Park

Saya bertanya ke petugas yang duduk dekat pintu masuk berapa uang masuk ke taman nasional Khao Yai. “400 baht,” jawabnya. Saya sudah mengantisipasi ‘harga orang asing’ ini. Ini lah waktunya untuk mencoba bernegosiasi. Saya katakan padanya bahwa saya sekarang tinggal di Bangkok untuk bekerja dan memiliki working permit. Petugas yang berbahasa inggris cukup baik ini mengangguk dan berpaling ke rekannya yang bertugas menarik uang masuk. “Si sip baht,” serunya pada rekannya itu. Cihuy, saya bisa membayar ‘harga orang lokal’ sebesar 40 baht saja (alias sepersepuluh ‘harga orang asing’!). Ternyata, mereka tidak meminta saya untuk menunjukkan working permit saya.

Dari pintu masuk ke kantor utama taman nasional, sekitar 14 km harus ditempuh. Saya pun berdiri di bahu jalan dan melambai pada 4×4 double cabin pertama yang lewat. Mobil ini berhenti. Saya berbicara bahwa saya akan ke kantor pusat dan minta izin untuk menumpang. Sopir yang didampingi istrinya di bangku depan tersenyum dan mengangguk. Saya pun melompat riang ke bak belakangnya.

Hilux Baru: Tumpangan Pertama

Hilux Baru: Tumpangan Pertama

Hitchhiking di sini relatif mudah. Orang-orang Thailand umumnya tidak keberatan memberi tumpangan pada turis. Dan di sinilah saya sekarang, di bak belakang Toyota Hilux hitam berplat merah (alias baru!) yang melaju 70 km/jam di atas jalan aspal halus menembus rimbun pepohonan yang diselingi padang rumput dan danau kecil. Sesekali pemandangan di kiri berganti menjadi jurang dengan bukit hijau di latar belakang. Lusinan monyet terlihat sepanjang perjalanan menyegarkan ini.

Sekitar 15 menit kemudian, kami tiba di kantor pusat taman nasional. Mobil berhenti dan saya melompat turun. Setelah mengucapkan terimakasih pada keluarga baik hati ini, saya lihat beberapa bangunan di sekitar. Saya menuju ke salah satu bangunan yang ternyata adalah kantin. Saya belum sarapan dan makan siang. Jadi, ini tempat yang tepat. Somtam, nasi lengket, pisang, dan kelapa muda jadi pilihan saya di antara sangat sedikit pilihan makanan (halal) di sini.

 

Khao Yai Visitor Center

Khao Yai Visitor Center

Selesai makan, saya menuju kantor utama, bertanya di mana saya bisa berkemah dan rute natural mana yang bisa ditempuh sendirian, tanpa gaet. Si petugas yang berbahasa inggris cukup baik menerangkan pada saya apa yang saya ingin ketahui dan memberi saya peta sederhana lingkungan sekitar taman nasional Khao Yai. Hari makin sore, saya pun bergegas.

Tujuan saya berikutnya adalah Pha Kluai Mai campsite, 11 kilometer dari kantor pusat. Sekali lagi saya berdiri di tepi jalan dan melambai sopan pada sebuah pickup double cabin yang agak tua. Mobil berhenti dan saya menerangkan pada sopirnya, seorang pria Thai setengah baya cenderung tua, kemana tujuan saya. Dia berseru, “Come on come with us!”

Di kabin mobil tadi saya lihat si pria setengah baya ditemani dua wanita setengah baya juga. Di bak belakang, saya bertemu dengan wanita dan pria, dua bersaudara. Mereka ini sekeluarga. Sopir tadi adalah kakek mereka dan para wanita di dalam mobil adalah bibi mereka.

Yang tak saya kira adalah, si kakek alias sopir tadi bekerja di taman nasional Khao Yai ini. Sekarang, saat saya menumpang mobil tuanya, dia sedang mengajak keponakan dan cucu-cucunya berkeliling sambil sesekali berhenti meneropong burung-burung di pepohonan. Jadilah saya ikut tur gratis dengan keluarga ini. What a lucky day!

 

Si Kakek dan Keluarganya

Si Kakek dan Keluarganya

Si kakek yang jelas menguasai medan membawa mobilnya pelan ke luar jalan utama ke tempat-tempat yang tak mungkin saya nikmati kalau saya menumpang mobil lain. Mobil beberapa kali berhenti karena ada kancil yang sedang merumput di padang rumput tepat di sebelah jalan, atau berhenti untuk mengamati sekumpulan rusa besar di kejauhan. Mereka di alam liar, tapi mereka kelihatan jinak.

Akhirnya si kakek kembali ke jalan aspal utama dua jalur yang halusnya bukan main. Tak lama, mobil tiba di Pha Kluai Mai campsite. Saya mengucap terimakasih pada keluarga ini dan berjalan berkeliling sekitar tempat kemah untuk mengamati kondisi.

Ada tempat parkir mobil, beberapa toilet, toko kecil penjual makanan ringan, dan kantin. Heran, ada seekor rusa besar tak bertanduk (moose) sedang bersantai di rerumputan dekat kantin ini. Di sini, tampaknya hewan-hewan liar ini menganggap Homo sapiens bukanlah ancaman.

Ada dua lokasi perkemahan yang dipisahkan jalan utama. Salah satunya lebih natural meski banyak tenda dan orang di padang rumput terbuka di sana. Ada bagian yang berpohon-pohon, lantainya tak berumput tapi tertutup dedaunan kering, dan paling penting, tak ada ribut-ribut manusia. Ideal!

 

Pha Klua Mai Campsite

Pha Klua Mai Campsite

Saya menuju ke kantor penyewaan alat-alat tenda, membayar 30 baht untuk camping fee, 20 baht untuk tikar, 20 baht untuk tungku, dan 10 baht untuk arang (mereka tidak memperbolehkan pengunjung membuat api unggun). Saya segera ke lokasi pilihan saya, membangun tenda, sholat, dan merebahkan diri di atas tikar di bawah teduh pepohonan. Kicau burung dan bunyi serangga musim panas konstan menemani siapa saja sore itu. Momen seperti ini selalu saja ajaib buat saya.

Malam mendekat. Saya menyalakan arang dengan membakar ranting-ranting kering dahulu. Sholat maghrib di alam terbuka ditemani api kecil dalam tungku. Apalagi yang lebih baik dari ini? Saya tetap berada di luar tenda dan memelihara api kecil dalam tungku karena tak ada sumber cahaya lain di dekat tenda saya. Senter ada di saku saya, yang tak saya duga ternyata segera akan saya nyalakan untuk melihat kejutan malam itu.

Sekitar pukul 8 malam, masih berada di luar tenda dan menikmati hangat bara api dalam tungku, tiba-tiba ada suara-suara halus dari kegelapan di depan saya. Saya tak menyadari pada awalnya karena suara-suara itu begitu halus dan dari kejauhan terdengar sekelompok anak muda ngobrol dalam volume suara yang mengganggu.

Akhirnya, suara itu makin jelas. Cuk,cuk,cuk,cuk…. Sepertinya bunyi langkah kaki, cepat, sekitar 4 ketukan per detik. Saya refleks berdiri siaga. Kucing hutan? Babi hutan? Atau lebih gawat, harimau? Seketika saya mencabut senter saya dan menyalakannya. Dengan kuda-kuda tubuh super siaga, saya sorotkan cahaya ke arah sumber bunyi. Dan…. itu dia!!

Tiga meter dari tempat saya berdiri, empat ekor landak sedang meluncur cepat di atas kaki-kaki pendek mereka di antara pepohonan. Kelihatannya mereka ini sekeluarga. Ada dua ekor berukuran besar yang mungkin adalah ayah dan ibu. Dua ekor lain berukuran kecil dan sedang yang mungkin adalah anak-anak dalam keluarga landak ini. Subhanallah, benar-benar kejutan menyenangkan!

 

Keluarga Landak

Keluarga Landak

Dulu, di tengah gelap malam taman nasional Kaen Krachan, seorang park ranger pernah mencoba menaruh umpan untuk menarik seekor landak langganan. Tapi karena banyak penonton, si landak tak berani menampakkan diri. Di sini, saya melihat dari jarak dekat tak cuma satu landak, tapi sekeluarga landak dengan dua anak (jadi ingat NKKBS jaman sekolah SD/SMP dulu).

Saya terus menyorotkan cahaya dan mengikuti perjalanan hewan nocturnal lucu ini. Saya baru sadar bahwa suara cukcukcuk-nya berasal dari bunyi gesekan antara duri-duri di punggung mereka ketika tubuhnya berguncang saat berjalan. Jelas momen semacam ini tak bisa dilewatkan untuk diabadikan.

Lampu flash kamera saya menyala beberapa kali dan menarik perhatian beberapa orang. Menyadari ada binatang unik, mereka mendekat dan mulai ikut mengambil gambar. Duh, merasa bersalah juga  mengundang orang-orang ini dan mengganggu privasi keluarga landak. Saya pun menyingkir dan kembali ke tenda.

Saat saya mencoba tidur dalam tenda, orang-orang tampaknya telah meninggalkan keluarga landak. Saat mata terpejam sejenak, saya dengar lagi suara cukcukcuk itu, kali ini sangat dekat. Saya membuka mata dan menoleh ke samping, dan… voila!

Saya lihat siluet duri-duri di dinding tenda saya yang menghadap lokasi kemah utama di mana sebuah tenda memasang lampu petromaks yang cahayanya samar menyentuh tenda saya. Cahaya petromaks ini mengenai si landak di luar situ dan membentuk bayangan siluet di dalam sini. Saya hanya diam mengamati gerak-gerik siluet hewan duri itu. Tak tampak bayangan anggota keluarga lain. Tak lama, siluet duri-duri itu menghilang. Saya pun berbaring kembali. Luar biasa pengalaman malam ini.

Rusa Jinak Ikon Pha Klua Mai

Rusa Jinak Ikon Pha Klua Mai

Di posting bagian 2, saya nyaris bertemu dengan gajah dan berharap bertemu dengan buaya……

Baca selanjutnya:

Khao Yai – Dengkuran Harimau dan Anak Hilang (bagian 2/3)

Khao Yai – Hercule Poirot dan Clark Kent (bagian 3/3)

Wassalam.