Yang saya pikirkan pertama kali adalah sebuah kemungkinan yang menegangkan. Saya membuat dugaan bahwa itu mungkin adalah celana seorang anak laki-laki sekitar 12 tahunan yang dilepas sebelum dia berenang di sungai yang lalu hanyut dan hilang meninggalkan celananya sebagai barang bukti. Nah, naluri detektif saya menyuruh saya memfoto celana itu dari beberapa angle untuk saya laporkan ke staf taman nasional nanti ketika saya kembali ke visitor center. Saya membiarkan celana itu  tetap di tempatnya karena tak ingin merusak barang bukti di TKP.

Saya rasa cukup tur di air terjun ini. Dipenuhi pikiran tentang anak hilang itu, saya lalu kembali ke trail awal dan mendaki punggung bukit. Di tengah perjalanan menanjak menembus pepohonan itu, tiba-tiba saya mendengar suara berisik daun-daun kering yang bergesekan, yang bernada seperti suara langkah kaki. Saya membatu sejenak dan mencoba memahami dari mana arah suara itu dan memperkirakan binatang apa itu.

Belum selesai otak memproses informasi itu, tiba-tiba di balik pepohonan, dari arah depan, muncul sosok berwarna hijau muda dan bercelana pendek biru. Setengah kaget saya dibuatnya. Ternyata yang muncul adalah seorang farang (bule) yang berjalan sendirian. Saya menyapanya dan kami berhenti dari perjalanan masing-masing untuk berbicara sejenak. 

 

Si Belgia Pecinta Kedamaian

Si Belgia Pecinta Kedamaian

Dia adalah pria muda dari Belgia yang menyukai alam asli, yang tak dipadati pengunjung. Makanya dia ingin ke air terjun Haew Sai untuk melihat barangkali air terjun tersebut lebih sepi pengunjung. Well, saya juga mencari hal itu di sini, kata saya. “Ya, tak ada siapa-siapa di Haew Sai. Mungkin anda akan menyukainya.” Saya lalu menunjukkan arah jalan setapak yang benar ke air terjun itu, karena ada 2 simpangan tanpa papan petunjuk yang bisa membuat orang tersesat. Kami pun berpisah.

Beberapa menit berjalan, tahu-tahu ada suara lagu berbahasa Thai sayup-sayup terdengar. Makin lama makin keras. Saya melongok ke sekeliling mencari asal bunyi. Ketika saya berjalan, suara itu mengkuti. Oh, ternyata bunyi itu dari saku celana saya! HP yang saya temukan di sungai tadi berdering! Saya segera menjawab panggilan itu.

Terdengar suara pria memberi salam dalam bahasa Thai. Saya menjawab dan mengatakan padanya dalam bahasa inggris, bahwa saya orang asing yang tidak berbahasa Thai. Dia mengerti dan mulai berbicara dalam bahasa inggris, mengenalkan dirinya sebagai Joe (terkadang nama panggilan orang Thai kebarat-baratan), dan mengatakan bahwa itu adalah HP saudaranya yang hilang kemarin. Saya bercerita bahwa saya menemukan HP itu di sungai di Khao Yai National Park tadi pagi, dan mengatakan padanya tidak perlu khawatir, HP saudaranya yang hilang itu berada di tangan yang tepat. Saya menanyakan bagaimana saya bisa mengembalikan HP itu pada saudaranya.

Lokasi si penelepon ternyata di sebuah penginapan di luar kawasan taman nasional, jadi tak begitu jauh. Kami pun mengatur pertemuan di lapangan parkir air terjun Haew Suwat, di mana saya sedang berada sekarang. Dia akan datang sekitar setengah jam lagi.

Setelah menutup telpon, saya melanjutkan perjalanan menyusuri trail setapak yang dihimpit semak-semak rimbun dan dinaungi tajuk pepohonan. Di bagian berikutnya saya mendapati rumpun bambu yang  beberapa batangnya pecah dan ujungnya terkulai ke tanah. Seperti ada kekuatan besar yang merobohkan mereka. Ini persis seperti bambu yang saya temukan di trail hutan di awal pagi ini, di tepi sungai. Tersangka utama? Gajah, pikir saya.  

 

Bambu Para Chang

Bambu Para Chang

Baru menduganya, di situ saya lihat pup berukuran jumbo itu lagi. Tak salah lagi, sekawanan gajah melewati area ini beberapa waktu lalu. Saya tak  bisa memperkirakan berapa lama yang lalu. Tapi yang menakjubkan, tempat berdiri saya ini adalah tanjakan (atau turunan) yang kemiringannya sekitar 45 derajat. Sungguh mengagumkan membayangkan makhluk-makhluk bongsor yang ingatannya tajam itu merambah punggung bukit berbidang semiring ini. Selain memiliki ingatan yang kuat, Elephas maximus ini juga pasti ahli fisika.

Saya lalu melanjutkan perjalanan menuju ke areal air terjun Haew Suwat untuk bertemu Joe di tempat parkir mobil. Rencana berikutnya adalah mencari tumpangan untuk kembali ke camping ground Pha Kluai Mai tempat saya berkemah tadi malam, membereskan tenda yang saya tinggal di situ, dan beranjak kembali ke Krungtep (Bangkok).

Setengah jam kemudian saya telah tiba di areal pakir dan duduk-duduk rumput di bawah pohon bertajuk rendah. Tak berapa lama, lagu Thai itu terdengar lagi. Nah, ini dia, Joe menelpon lagi. Mungkin dia sudah tiba di sini. Saya terima panggilan telpon itu dan benar, Joe telah tiba di areal parkir Haew Suwat. Saya beritahu dia lokasi saya dan ciri-ciri saya, yang terutama adalah pria berkacamata berkaos coklat yang membawa carrier hijau tua.

 

Haew Suwat Waterfall

Haew Suwat Waterfall

Baru menutup telpon, seseorang mendekati saya. “Khun Seyafnee?” tanyanya. Ya. “Ah, I am Joe, and this is my brother,” katanya  dalam bahasa inggris yang terbata-bata. Apakah dia pemilik HP yang hilang itu? “Yes, he lost it yesterday around the river,” dia menjawab mewakili adiknya yang tampaknya tak berbahasa inggris.

Baiklah, ini HP-nya. Semoga tak ada sesuau yang kurang darinya. “Ooh, thank you, thank you… there are some important numbers in this phone. Thank you!” Tak apa-apa. Senang bisa mengembalikan barang yang hilang ke pemiliknya.

Setelah berterimakasih, dia menanyakan darimana asal saya, dalam rangka apa di sini, dengan siapa, dan apa rencana saya berikutnya. Saya seorang Indonesia yang sedang menikmati alam Khao Yai sendirian dan sebentar lagi ekspedisi saya berakhir. Saya harus kembali ke tempat berkemah Pha Klua Mai untuk mengemas tenda saya dan kembali ke Bangkok. “Ah, you can go with us to Pha Kluai Mai, then.” Wah, dengan senang hati. Terima kasih tawarannya.

Ternyata mereka berdua mengendarai sebuah mini van putih yang bisa memuat 15 orang. Dan ternyata ada dua orang rekan mereka yang menunggu di mini van itu, salah satunya menyetir van itu. Rupanya mereka berombongan pergi ke taman nasional Khao Yai dan sebagian rombongan mereka berada di penginapan sementara mereka ke Haew Suwat untuk mengambil HP adik Joe. Saya berbincang kecil dengan Joe dalam perjalanan kami menuju Pha Kluai Mai camping ground.

Sekitar 10 menit perjalanan dengan van di atas jalan beraspal mulus dua jalur menembus hutan, kami tiba di perkemahan. Saya mengucapkan terimakasih dan mereka membalas dengan ucapan terimakasih juga, lalu turun dan berjalan menuju tenda saya yang kosong. Beberapa monyet berkeliaran di atas jalan aspal dan di sekitar tenda saya.

 

Lonely Tent

Lonely Tent

Saya lihat jam tangan, pukul 13.10. Perkemahan telah sepi pengunjung. Sebagian besar pemuda-pemudi Thailand yang agak riuh tadi malam sudah pulang. Tapi saya lihat seorang farang (bule) sedang mendirikan tenda di lapangan rumput yang relatif terbuka. Saya melewatinya sambil memperhatikannya, lalu bergegas menuju pancuran untuk berwudlu.

Saat saya berjakan kembali ke tenda, dia menyapa saya. Saya pun membalas sapanya. Kami saling mengenalkan diri dan berbincang di depan tendanya. Pria tigapuluhan berkepala bulat telur ini berasal dari Belgia (hah, Belgia lagi?) dan sedang berlibur di Thailand (kepala bulat telur dan dari Belgia? Tentu saja ini mengingatkan saya pada Hercule Poirot, tokoh fiksi dari Belgia dalm novel detektif ciptaan Agatha Christie). Dia datang ke Khao Yai untuk menyalurkan hobinya, bird watching.

Saya berseru bahwa saya dulu, waktu masih ‘muda’, suka sekali membaca komik buatan almarhum Herge, Petualangan Tintin. Yah, tentu saja dia tahu kartunis senegaranya yang tersohor karena Tintin si rambut jambul ciptaannya itu. Lalu saya bercerita bahwa saya beberapa jam lalu juga bertemu seorang Belgia di dekat air terjun di sana, dan bertanya apakah mungkin dia mengenalnya. “Tidak, saya pergi sendiri ke sini.” Hm, bertemu dua orang Belgia dalam beberapa jam di tempat yang sama di Khao Yai. Yang satu pecinta alam yang sepi, yang satu pecinta burung. Thailand cukup dikenal di Belgia rupanya.

“Hey, coba lihat burung di sana,” seru Poirot sambil menunjuk seekor burung yang bertengger di sebuah pohon. Dia bergegas ke tendanya untuk mengambil teropong dan buku katalog burungnya yang luar biasa kusut. Setelah meneropong sebentar, dia lalu berceramah tentang burung apa itu dalam bahasa inggris dengan aksen yang belum pernah saya dengar sebelumnya (aksen Belgia, tentu saja) sembari menyerahkan teropongnya pada saya. Saya meneropong si burung, yang di mata saya nampak seperti perkutut, sambil mendengar penjelasan fasih Poirot tentang si burung. Pengetahuannya luar biasa. Ini lah hasil dari katalog burung yang lusuh dan beberapa halamannya hampir copot itu, pikir saya.

Si Belgia Pecinta Burung

Si Belgia Pecinta Burung

Setelah khotbah tentang burung yang cukup menarik itu selesai, saya lalu berfoto dengannya menggunakan tripod. Lalu saya berpamitan padanya untuk kembali ke tenda. Saya harus membereskannya dan segera kembali ke Bangkok. “Well, ok.. see you again later…!” Saya menyalami Hercule Poirot yang di negaranya bekerja sebagai pegawai negeri di departemen lingkungan itu.

Pukul 2, setelah sholat dan mengemas tenda, saya duduk-duduk santai di pinggir jalan beraspal taman nasional menunggu mobil lewat untuk menumpang ke kantor pusat taman nasional. Beberapa monyet asyik bermain-main di jalan itu. Tak begitu berbahaya berkeliaran di jalan karena memang tak banyak kendaraan lewat. Kalau ada mobil yang berlalu, mereka dengan tangkas menyingkir dari jalan.

Di sisi tepi jalan tempat saya duduk-duduk, juga ada tiga pria lain yang sepertinya adalah ranger hutan yang menunggu jemputan. Dua orang, satu tua berambut putih dan yang lain masih agak muda, berwajah asli Thai dan seorang lagi, yang paling muda, berwajah oriental yang saya yakin adalah orang sThai juga. Si Thai muda menyandang golok yang disarungkan di pinggangnya. Bentuk dan ukuran goloknya sangat mirip kukri, pisau besar khas Nepal.

Sebuah mobil sedan lewat. Saya membiarkannya lewat. Mobil kecil macam itu tidak asyik untuk ber-hitchhking dan kadang memang tidak memungkinkan karena mobil telah penuh penumpang. Tak lama, sebuah double cabin hitam muncul di tikungan. Nah, ini dia, saatnya mengacungkan jempol. Ternyata, si tiga orang tadi juga memberhentikan si double cabin hitam untuk menumpang. Si Thai muda berbicara dengan sopir truk bak terbuka itu. Setelah si sopir mengijinkan, mereka, dan saya, melompat ke bak belakang yang ternyata penuh barang. Walhasil, kami harus mengatur diri baik-baik untuk duduk dengan nyaman.

Saat mobil mulai melaju, si Thai muda menyapa saya dalam bahasa Thai. “Sorry, poot Thai nitnoy,” jawab saya dalam bahasa campuran. Maaf, saya berbicara Thai sedikit. Dia mengerti dan melanjutkan pembicaraan dalam bahasa inggris beraksen Thai. Si wajah oriental yang berkacamata ala Clark Kent mulai bicara mengenalkan dirinya. Tak disangka, bahasa inggrisnya sangat baik dengan aksen amerika yang kadang sedikit hilang dan membuat saya tak yakin lagi bahwa di seorang Thai.

Saya juga memperkenalkan diri dan bertanya darimana asalnya. “I am from Mexico, but my parents are Korean”. Namanya, Juan ….. (saya lupa nama belakangnya, yang jelas nama belakangnya adalah nama Korea). Unik juga – keturunan Korea berkebangsaan Meksiko berjalan-jalan di Thailand dan berencana kuliah di Cina.  Kami mengobrol sepanjang perjalanan yang mengacak-acak rambut itu.

Pak Tua adalah ranger kawakan di Khao Yai. Si Thai yang lebih muda adalah pengelola yayasan anak-anak miskin di Sri Racha, dan si Clark Kent dari Meksiko adalah tamu di yayasannya sebagai  sukarelawan. Tiga hari ini, mereka berpetualang di hutan Khao Yai dan bermalam di rumah pohon milik Pak Tua. Asyik betul kedengarannya.

Akhirnya double cabin melambat saat memasuki tempat parkir di visitor center. Setelah berhenti, kami melompat dan mengucapkan terimakasih pada sopirnya. Sebelum berpisah juga dengan tiga petualang Khao Yai, kami berfoto bersama. Yang agak mencengangkan, si Pak Tua ternyata menyimpan revolver sungguhan di balik bajunya. Saat berfoto dengannya, dengan bangga dia mengeluarkan senjatanya itu dan mengacungkannya. Ini kedua kalinya saya berfoto dengan petugas bersenjata sungguhan. Dulu, saya dan istri pernah berfoto dengan polisi turis dengan AK47-nya di Philipina yang dengan senang hati meminjamkannya pada kami untuk berfoto. Dia bertugas mengawal kami saat kami berwisata ke pulau Santa Cruz, Zamboanga City, Mindanao. 

 

Si Thai Ber-Kukri dan si Meksiko

Si Thai Ber-Kukri dan si Meksiko

 

Pak Tua dan Revolver-nya

Pak Tua dan Revolver-nya

Kami pun lalu berpisah dan saya berjalan menuju kantor visitor center untuk menanyakan tentang anak hilang di Khao Yai. Di resepsionis ada seorang wanita yang berbeda dengan yang pertama saya jumpai di awal kedatangan saya. Saya lalu bertanya apakah dia berbicara bahasa inggris. Di bilang tidak bisa. Adakah petugas lain yang bisa? Hmm…. Tidak ada, ternyata.

Di sini saya hampir yakin bahwa kami akan kesulitan berkomunikasi. Ada seorang petugas mendekat dan dia berbicara bahasa inggris sepatah-sepatah. Saya coba peluang ini untuk bertanya padanya dengan sangat pelan, apakah ada sesorang yang hilang di hutan dekat air terjun. Mulutnya sedikit terbuka saat mendengarkan saya. Ekspresi wajahnya memperlihatkan dia sedang mencoba untuk memahami. Tapi ternyata dia tak mengerti maksud saya.

Baiklah, saya mungkin tak bisa melakukan apa pun lagi kalau memang ada anak hilang di situ. Saya sudah mencoba sebisanya dan berharap celana biru bermotif kartun di pinggir sungai dekat air terjun sepi itu hanya tertinggal di situ dan pemiliknya baik-baik saja. Saya pun beranjak keluar kantor itu dan siap ber-hitchhiking lagi ke gerbang utama taman nasional.

Tak lama berdiri di tepi jalan di depan kantor visitor center, beberapa mobil lewat. Tapi tak ada yang cocok untuk menumpang, jadi saya tak mangacungkan jempol. Nah, itu dia, sebuah pickup double cabin lagi. Dia berhenti. Setelah saya bertanya apakah si sopir melewati gerbang utama dan apakah saya boleh menumpang di bak belakang dan jawaban untuk keduanya ‘ya’,  saya sekali lagi melempar carrier saya dan melompat ke bak belakang dengan riang.

Saat mobil bergerak, saya lihat si trio petualang dan kakek petugas taman nasional baik hati yang memberi tumpangan pada saya dan tur gratis bersama keluarganya kemarin terlihat duduk-duduk bersama dan melambai pada saya. Rupanya kakek baik hati pecinta burung adalah teman Pak Tua berpistol. Saya membalas lambaiannya dengan senyum lebar. 

 

Padang Rumput Khao Yai

Padang Rumput Khao Yai

Bak belakang yang kosong, udara segar, padang rumput di tepi jalan yang berganti-ganti dengan hutan lebat dan jurang, monyet-monyet yang bermain di pohon-pohon itu, dan jalan halus yang meliuk-liuk di punggung bukit taman nasional Khao Yai membuat segmen terakhir perjalanan di tempat ini mengasyikkan sekaligus menyedihkan. Sebentar lagi semua ini akan berakhir.

Sekitar 20 menit, mobil tiba di gerbang. Saya mengucap terimakasih pada si pengendara dan memandang ke tempat di mana songtheaw biasa berhenti. Masih ada! Saya beruntung. Kemarin saya diberitahu bahwa songtheaw di Khao Yai yang menuju Pak Chong habis pukul 3 sore, dan sekarang pukul tiga lewat lima belas! Yang parkir di sana bisa jadi adalah songtheaw terkahir hari itu. Saya bergegas dan melopat ke belakangnya.

Songtheaw Terakhir

Songtheaw Terakhir

Sudah ada beberapa farang yang mengobrol ramai dalam bahasa inggris beraksen amerika. Dua diantaranya menggenggam leher botol bir. Saya duduk di ujung bangku, paling belakang dan paling dekat dengan pintu. Tak lama songtheaw berangkat meninggalkan gerbang Kha Yai National Park. Di belakang, saya memandang ke arah Khao Yai yang makin lama pegunungannya yang hijau makin mengecil dan wana hijaunya makin memudar.

 

Pegunungan Khao Yai

Pegunungan Khao Yai

Setengah jam kemudian songtheaw tiba di kota Pak Chong dan saya membayar 35 baht sesuai harga normal Pak Chong – Khao Yai. Kadang farang bisa dikenai 40-50 baht oleh si sopir. Jadi kalau wajah sudah mirip orang Thai, menguasai beberapa patah kata Thai seperti ‘thow rai, kap?’ (berapa?) bisa menghemat uang kita.

Dari pemberhentian songtheaw, saya diberitahu bahwa saya harus menyeberang jalan besar ini, kemudian berjalan sedikit ke arah berlawanan dengan arah datang songtheaw tadi. Di situ ada loket tiket untuk bis ke Bangkok. Dan begitulah, perjalanan saya lalu berlanjut dengan bis ke Bangkok dan berakhir sudah akhir pekan (Sabtu-Ahad) yang mengasyikkan ini.

Lokasi: Taman Nasional Khao Yai; Durasi: Sabtu-Ahad; Waktu Tempuh Bangkok-Khao Yai: 3 jam; Rute: Bangkok-Pak Chong-Khao Yai-Pak Chong-Bangkok; Moda transport: bis-songtheaw; Bermalam: Pha Klua Mai Camping Site; Trekking Trail: Perkemahan Pha Klua Mai-Air Terjun Haew Suwat (2 jam); Budget: THB 500.