(Agak) sulit diterima! Tapi apa boleh buat, ini fakta… Juli 2010 lalu tersebar kabar bahwa salah satu petani terbaik Indonesia ‘dibajak’ negara tetangga. Kenapa bisa? Ternyata karena dia tak dapat perhatian dari negara sendiri. Sedihnya… Lalu, bagaimana pula petani Thailand?

Orang Tasikmalaya mungkin mengenal nama Aef Deet. Ditangannya-lah nasib pertanian organik Tasikmalaya digariskan. Dia lah sang maestro dalam urusan ini karena Aef telah kaya pengalaman bertani organik sejak tahun 1990-an.

Ketenaran pria kelahiran 1966 itu sebagai ahli pertanian organik boleh dibilang terus tersiar melewati Bumi Parahyangan. Banyak orang, baik sendiri-sendiri maupun berkelompok, datang berguru kepada petani itu.

Orang-orang yang mengenalnya berkata Aef terus konsisten di di bidang ini selama bertahun-tahun sambil berharap ada perhatian dari pemerintah. Tapi, hingga saat ini dia belum menerima perhatian itu. Hingga akhirnya…

Pada suatu hari beberapa tahun lalu, sejumlah orang dari Serikat Sunnah Tani dari Kelantan, Malaysia, menemui Aef, yang ternyata bukan hanya untuk berguru, tapi menawarkan perbaikan ekonomi bagi pria itu.

Singkat cerita, dia menyetujui tawaran utusan negri jiran itu dan tahun lalu (2009) berangkatlah ia ke Malaysia. Aef Deet pergi untuk mengabdikan ilmunya di Kelantan. Belakangan dia bercerita bahwa dia hanya salah satu dari enam orang petani ahli Indonesia yang diboyong serikat Sunnah Tani Kelantan.

Setahun berlalu dan dia kembali ke Indonesia (sementara untuk nantinya kembali ke Malaysia) dan berbagi cerita. Di sana Aef menggarap sawah padi dan menjadi trainer pertanian padi organik bagi para petani lokal.

Berapa pendapatan di sana, Kang Aaef? Dengan nada bangga, Aef berkata bahwa dia digaji Rp. 12 juta per bulan plus tunjangan lain-lain. Setelah setahun dia sudah bisa menabung untuk biaya naik haji dan membangun rumah di kampungnya, Sukapada. Ck, ck, ck… cukup banyak juga yang diberikan Kelantan untuk Aef. Mungkin memang itulah penghargaan yang sepadan untuk keahliannya.

Ironis memang. Bayangkan bahaya tersembunyi dari ‘pembajakan’ ahli Indonesia di bidang pertanian ini. Melalui training yang mereka lakukan di Malaysia, terjadilah transfer ilmu dan teknologi bertani organik. Kalau sekarang Malaysia di belakang kita, beberapa waktu lagi mungkin mereka akan menelikung kita dengan cepat. Siapa yang tahu? 

Kontras dengan nasib petani-petani hebat seperti Aef di negeri sendiri, di Thailand, ceritanya berbeda. Cerita berikut akan memberi bukti jelas kenapa buah-buahan dan produk pertanian Thailand lebih populer dari milik kita.

Mei 2010 lalu, seorang petani wanita muda, Nantha Maicharoen (20 tahun) mendapat penghargaan dari keluarga Raja Thailand. Nantha adalah penerima penghargaan ‘Outstanding Young Farmer Award for Integrated Farming’, dan adalah salah satu dari beberapa petani penerima penghargaan tahunan untuk petani-petani berprestasi tersebut.

Award ini adalah program kerajaan dan akan diberikan kepada para pemenang oleh Putra Mahkota Vajiralomgkorn.

Nantha Maicharoen (Credit: Bangkokpost)

Nantha Maicharoen (Credit: Bangkokpost)

Wanita muda ini memperoleh penghargaan tersebut karena kemampuannya untuk menerapkan konsep keuangan, manajemen, dan perencanaan untuk mengurangi resiko, serta memastikan keluarganya memperoleh penghasilan yang stabil. Ini adalah bagian dari filosofi ekonomi berkecukupan sang Raja Bhumibol yang memang sangat peduli terhadap petani dan pertanian Thailand.

Seperti dikutip Bangkokpost, dia mengatakan,”Saya ingin petani Thailand untuk berubah menuju konsep pertanian moderen. Ini adalah karir yang bisa menopang seluruh negeri. Kita harus bangga dengannya. Ini adalah karir independent dan kita bisa menjadi tuan di negeri sendiri.”

Seandainya negara kita juga memberi perhatian yang cukup seperti ini, Aef Deet mungkin juga akan dengan bangga mengatakan “…kita harus bangga… kita adalah tuan di negeri sendiri.” Sayang, dia ‘terpaksa’ menjadi ‘tuan’ ke negara tetangga yang belakangan bergesekan (lagi) dengan Indonesia karena kasus nelayan mereka yang masuk ke perairan Indonesia, tapi malah petugas DKP yang ditangkap Polis Diraja Malaysia.

Ayo, Pak Presiden, masih banyak PR kita… Gelar Doktor di bidang Ekonomi Pertanian mestinya bisa membuat petani-petani kita betah hidup di negeri sendiri….

Wassalam.