Alhamdulillah. Akhirnya gugusan kata meluncur lagi, yang pertama di bulan Oktober ini. Menulis menjadi macet setengah bulan terakhir. Minggu lalu, dua orang ‘Jenderal’ Samudera melawat ke Bangkok dan tentu saja sambutan harus dipersiapkan dengan matang jauh-jauh hari. Tak ada hari yang terlewat tanpa membuka dan memperbaiki file presentasi.  ‘Gangguan’ lain adalah Tiga Cangkir Teh-nya Greg Mortenson. Kisahnya – yang nyata yang ditulis bersama  rekan jurnalisnya, David Oliver Relin – sungguh kuat hingga membuat saya lekat di halaman-halamannya di waktu senggang yang biasa saya pakai untuk mencuci baju, memasak tomyam, atau sekedar memandangi foto-foto jenius di majalah National Geographic.

Saya pernah berjanji untuk bercerita tentang makanan yang membuat kebun pepaya di Thailand dipaksa berproduksi sepanjang tahun. Ya, somtam (atau som tam, somtum, som tum). Bagi anda yang masih asing dengan nama ini, paling mudah menggambarkannya sebagai ‘salad pepaya muda’. Hanya beberapa hari setelah – untuk pertama kalinya – saya mendarat di Bangkok, somtam menjadi favorit baru saya (di luar alasan kesulitan mencari makanan halal di hari-hari pertama saya di Bangkok). Beberapa bulan kemudian, setelah berporsi-porsi somtam, saya membeli buku murah berbahasa inggris di bazar buku bekas yang bercerita tentang ‘tinglish’ – sebutan untuk kata/frasa thai yang diterjemahkan dalam bahasa inggris versi orang thai – di bidang kuliner Thailand dan menemukan padanan somtam dalam bahasa inggris (selain papaya salad) di situ. Sekarang, saya menggunakan sinonim itu untuk menamai blog ini.

Papayapokpok. Kalau anda belum pernah mendengar padanan somtam bernada lucu itu, tapi anda pernah melihat proses pembuatan si salad, barangkali anda bisa menebak kenapa sebutan itu dipakai. Dulu seorang mbok-mbok thai penjual somtam mempunyai beberapa pelanggan asing, para farang. Dengan kreatif – dan tentu saja lugu – dia yang hanya tahu sangat sedikit bahasa inggris dan kesulitan membuat pelanggannya ingat nama lokal makanan itu, menamai somtam dengan papayapokpok untuk pelanggan-pelanggan farang-nya. Pokpok diambil dari suara alu genggam yang ditumbukkan berulang-ulang dalam cobek berbibir tinggi, berdiameter sekitar 30 sentimeter, terbuat dari tanah liat, untuk menghancurkan bumbu di dalamnya.

 Melihat bagaimana papayapokpok dibuat seorang penjual di soi (gang) dekat saya tinggal, saya mengira bahwa urusannya sederhana saja.  Ada sekitar sepuluh jenis bumbu yang ditumbuk dengan alu dalam cobek berbibir tinggi. Setelah bumbu-bumbu itu setengah halus (paling tidak begitu perkiraan saya), sisiran papaya muda dimasukkan dan ditumbuk lagi dengan lembut. Besar kemungkinan bahwa perkiraan saya tentang kesepelean membuat salad pepaya muda itu salah. Seorang rekan thai saya di kantor pernah berkata suatu hari, “… Seperti membuat masakan lain yang terlihat lebih kompleks, meracik somtam itu perlu takaran bumbu yang tepat, tekanan alu yang pas, dan perasaan yang halus….” Entah apakah karena dia sedang membanggakan somtam thai-nya dan tak ingin orang asing meremehkan makanan kebanggan orang thai itu sedetik pun maka dia berkata begitu. Bagi saya, penggambaran dramatis ini membuat somtam terdengar seperti sepupu masakan thai lainnya yang lebih rumit, seperti tomyam, yang dituntut untuk juga dihormati. Tak perlu disuruh, saya menghormati somtam – dengan segala kesederhanaannya –  sebagai salah satu mahakarya dunia lidah (paling tidak dunia lidah saya).

Saya pernah bercerita bahwa di satu sisi, somtam itu diciptakan Tuhan yang Pemurah sebagai makanan survival, makanan penyelamat bagi saya. Mari saya ceritakan. Secara geografis, mungkin jaringan penjualan somtam adalah yang terluas di tanah Siam ini. Dari yang kelas soi hingga bintang lima. Kesimpulannya, sangat mudah mendapatkan makanan ini dimanapun kita berada di Thailand ini. Itulah mengapa, somtam serasa seperti sahabat karib dan penuh pengertian yang selalu ada di masa-masa sulit seperti saat saya kelaparan di sebuah danau di Saraburi karena toko kelontong satu-satunya di situ tutup (kisah tentang ini masih dalam bayang-bayang kabur sebelum nantinya saya wujudkan menjadi sebuah posting); atau saat saya baru melompat dari mobil berkabin ganda tumpangan saya di Khao Yai dan waktu makan pagi telah lewat (ini ada dalam kisah Khao Yai saya terdahulu); atau saat saya dihinggapi kemalasan mengolah lauk-lauk mentah di kulkas.

Bagaimanapun, saya memastikan dulu bahwa tempat di mana saya memesan papayapokpok harus M3, alias mai-mi-moo, yang dengan intonasi yang tepat, berarti tidak-ada-babi. Setelah M3 terpenuhi, saya akan memesan set berikut: somtam dengan dua cabai, nasi ketan, lalapan (berupa irisan kacang panjang, kubis, sawi putih, dan kangkung merah renyah serta kadang dilengkapi juga dengan petai cina segar), dan pladook (lele) bakar. Saya membolehkan udang kering (koong) tapi tak pernah memperkenankan kepiting hitam (poo) mentah ditambahkan dalam adukan bumbu somtam. Saya pernah mendengar reputasi buruk parasit Paragonimus westermani yang kadang berkutat dalam tubuh kepiting hitam air tawar yang sebetulnya tanpa dosa. Cacing miksroskopis inilah – dan bukan si kepiting itu sendiri – yang bisa-bisa menghajar perut (dan bahkan paru-paru) manusia tanpa ampun. Entah kenapa, nama si parasit melekat dalam jaringan kecil hafalan saya di otak. Setelah saya pikirkan lagi, ternyata ini disebabkan oleh sebuah keterkaitan unik yang secara mengada-ada dibuat pikiran bawah sadar saya. Ini dia keterkaitan itu: Paragonimus = kepiting hitam = somtam = Thailand = Bangkok = Siam Paragon. Ada-ada saja….

Itu di satu sisi. Nah, di sisi lain, terkadang somtam memberikan pengaruh yang tak terduga, dalam arti positif. Bagi saya sendiri, ini bukan tipe makanan enak yang harus dinikmati tiap siang. Ini adalah jenis makanan yang hanya terkadang saya rindukan atau menjadi kebutuhan penting dalam situasi darurat. Nah, saat saya betul-betul menginginkannya, saya turun ke soi dan memesannya. Tanpa harapan akan akibat yang mungkin ditimbulkannya, setelah makan sisiran papaya muda dengan bumbu asam dan pedas ini, kadang seolah-olah saya menjadi bersemangat dan anehnya, ada pikiran menyegarkan muncul bahwa saya – entah bagaimana – akan bisa mengatasi masalah kantor yang belum rampung. Di lain waktu, efek sampingnya berupa keinginan kuat untuk menulis; atau keinginan berjalan saja daripada melambai ke mobil yang lewat dan menumpang, agar bisa menikmati padang rumput dan hutan lebih khusyu. Ada-ada saja…

Sekilas saya perhatikan, kegemaran makan somtam ini lebih banyak menjangkiti wanita daripada pria thai. Kesimpulan ini dicapai dari pengamatan berikut ini. Saat saya duduk bersama beberapa rekan pria thai di rumah makan menu lokal, saya memesan somtam. Mereka bertanya apakah saya menyukainya? “Ya,” jawab saya. “Memangnya kamu tidak suka?” rekan thai itu cuma tersenyum sambil menggeleng. “Kenapa?” saya kembali bertanya. Tidak ada alasan khusus dia tak menyukainya. Di lain hari setelah jam kerja selesai, beberapa rekan wanita terlihat begitu sibuk mondar-mandir di dapur kantor. “Apa, sih, yang mereka ramai lakukan di situ?” tanya saya dalam hati. Ternyata mereka seru sendiri membuat somtam! Rekan-rekan pria mereka tak tampak tertarik dengan hasil karya para wanita itu. Di lain waktu, saya diajak rekan-rekan kantor ke sebuah kuil di pelosok Khon Kaen untuk berderma. Tentu saja ada acara makan-makan di situ. Berbagai jenis makanan mengalir berpiring-piring. Mangkok berisi somtam khas isaan (yang berbeda dengan somtam Bangkok karena tidak ada tambahan kacang tanah sangrai) hanya digapai-gapai para wanita. Para pria meraih mangkok-mangkok lain.

Saya seorang pria dan saya menyukai somtam. Saya berpikir betapa bersyukurnya saya atas kemurahan Allah yang menciptakan lidah hambanya ini yang bisa menampung hampir apapun, makanan nabati atau hewani. Kemampuan mengunyah apapun terutama sayuran mungkin tercetak dalam gen saya dan gen itu menyala sepanjang waktu (meminjam istilah Dr. Kazuo Murakami). Ibu saya seorang sunda dan gemar memakan sayuran seperti layaknya orang sunda lainnya. Sifat herbivora kuat yang tercetak dengan tinta tebal dalam buku gennya itu terwariskan ke gen-gen dalam sel tubuh saya dan begitulah saya mendapatkan anugerah cinta sayuran yang besar ini (begitulah kira-kira Dr. Murakami akan menerangkan perihal kondisi saya ini). Dalam banyak situasi, sifat ini sungguh menguntungkan bagi keselamatan dan keberlanjutan hidup saya. Saya jadi ingat si Amerika Greg Morteson yang membaur di pedalaman dusun Korphe di Pakistan dan menyantap makanan sesederhana apapun yang disediakan orang kampung itu layaknya seorang Balti sejati.

Kembali ke urusan somtam, hari ini, atas pesanan istri saya yang juga penikmat somtam, saya turun ke soi dekat kantor, membeli satu set somtam dengan kelengkapan yang saya sebut sebelumnya, dan berjalan pulang ke rumah untuk makan siang. Saat saya siap makan, saya mengingatkan diri sendiri tentang satu hal yang sungguh menempel dan harus saya waspadai selain cacing begundal Paragonimus di kepiting hitam yang tentu saja tak saya pesan: bau. Somtam sering dibumbui pla-ra. Apa itu? Itu adalah ikan yang telah difermentasi berbulan-bulan, yang diproses dengan metoda yang kalau kita melihatnya akan sanggup membuat kita mengikrarkan cerai pada makanan apa pun yang dibumbui pla-ra,  dan berakhir sebagai produk berwujud pasta encer berwarna gelap yang berbau naudzubillah. Dalam budaya kita, mungkin pla-ra mirip dengan terasi. Banyak orang menyindir temannya yang bersantai di meja kerja sambil mengangkat kaki yang telanjang, mengatakan bahwa kakinya bau terasi. Padahal tahu tidak, si penyindir itu cinta sambal terasi sampai mati. Demikian juga lah fenomena pla-ra di tengah masyarakat Thailand ini. Makan somtam dan nasi lengket pakai tangan itu nikmat. Tapi kalau bau di tangan yang tak mau hilang jadi kekhawatiran, maka ingat-ingatlah pesan para investor di Wall Street: no pain, no gain!