Suatu Ahad pagi di bulan Maret, sekelompok bapak duduk bersila membentuk lingkaran kecil di masjid agung Islamic Center di Jalan Ramkamhaeng soi 2, Bangkok. Seorang bapak berbadan segagah beruang coklat Alaska sedang membacakan asbabul nuzul beberapa ayat terakhir surat Al Araf. Dialah Ustad Dicky Kresnadi, sang kepala suku MMIT (Masyarakat Muslim Indonesia di Thailand). Sementara Pak Dicky, yang dikaruniai Allah suara yang merdu, membacakan asal muasal turunnya ayat-ayat Al Quran yang dibaca bergiliran sebelumnya, yang lain mendengarkan dengan hikmat. Inilah bagian dari pengajian rutin jama’ah MMIT tiap Ahad pagi.

Kembali ke tahun 2006, beberapa orang warga Indonesia muslim yang bermukim di Bangkok, salah satunya Pak Budi Suswadi, sepakat tentang kebutuhan membentuk organisasi yang menyatukan silaturahim semua warga Indonesia muslim yang tinggal di Thailand. Akhirnya, pada tahun tersebut, dibentuklah MMIT yang kegiatannya, hingga sekarang, didanai oleh infaq dari para anggotanya.

Suasana pengajian Ahad pagi

Suasana pengajian Ahad pagi

“Masyarakat Muslim Indonesia di Thailand (MMIT) adalah suatu wadah organisasi masyarakat non profit bagi semua muslim Indonesia yang berada di Thailand. MMIT merupakan sarana untuk bersilaturahim sesama muslim serta sebagai media tarbiyah dari kita, untuk kita dan oleh kita kaum muslimin dan muslimah di Thailand dan khususnya di Bangkok. Bagi masyarakat muslim Indonesia yang berada di Bangkok dan sekitarnya, mari kita semarakan syiar Islam di Bangkok ini melalui wadah Masyarakat Muslim Indonesia di Thailand,” jelas Pak Dicky yang bekerja sebagai tenaga ahli di Worley Parson Thailand.

Ketika ditanya tentang siapa anggota MMIT dan berapa jumlah yang aktif saat ini, sang kepala suku memberikan indikasi bahwa seluruh muslim yang tinggal di Thailand adalah anggota MMIT. Anggota aktif, dalam hal ini yang rutin mengikuti pengajian intensif (para bapak pekerja muslim di Thailand), pengajian mahasiswa, dan pengajian para ibu, berjumlah sekitar 50-60 orang.

Mengenai kegiatan MMIT, berikut adalah gambarannya:

Mingguan : Pengajian intensif ahad pagi bada sholat Subuh, pengajian para ibu hari Jum’at jam. 10.00 s/d selesai, TPA anak2 hari Sabtu bada sholat Ashar.

Bulanan : Silaturahmi masjid ke masjid di daerah Bangkok dan sekitarnya (program ini masih tersendat saat ini dan diharapkan bisa diaktifkan lagi nantinya).

6 bulanan : Mengadakan pengajian dan tadabur alam di luar Bangkok yang sifatnya terbuka bagi semua jamaah MMIT.

Non-rutin : Mengadakan perayaan hari-hari besar Islam, menerima titipan ZIS, fund raising untuk bantuan kemanusiaan, dan kegiatan lain yang bersifat keagamaan.

Bulan Februari lalu, jama’ah yang tadi disebut sebagai kelompok ‘pengajian intensif ahad pagi’ yang telah lelah dengan hiruk pikuk Bangkok, melepas rindu pada alam. Setelah melepas sepatu kerja, baju berkerah, dasi dan jas, anggota kelompok beraneka usia tersebut berganti mengenakan celana kargo, kaos, dan menggendong tas punggung, menumpang bus menuju Taman Nasional Erawan, dua setengah jam dari Bangkok, dengan penuh semangat. Di sana, dikelilingi tenda-tenda – di bawah pepohonan di tepi sungai Kwai – tempat malamnya mereka tidur, mereka memasak, berbincang hingga larut, membuka kitab dan membaca isinya. “Mengaji di tengah alam seperti itu sungguh menyegarkan – jiwa dan raga – dan besarnya ‘ruang’ tempat kami berkemah dan mengaji itu mengingatkan betapa besar nikmat Allah yang kami terima hari itu, dan selama ini,” ujar Syafni, salah satu anggota termuda kelompok.

Tadabur alam mini, Erawan National Park (Februari 2011)

Tadabur alam mini, Erawan National Park (Februari 2011)

Seperti telah disebutkan sebelumnya, ada kalanya, saat memang dibutuhkan, MMIT mengorganisir kegiatan kemanusiaan. Oktober 2010 lalu, misalnya, saat Merapi di Yogyakarta meletus dan gempa yang disusul tsunami menghantam Mentawai, Ustad Surya Kurniawan, bendahara MMIT, membuka dompet amal bagi para donatur yang tinggal di Thailand yang ingin membantu dengan dana. Pak Surya kemudian menyalurkan dana tersebut ke Bulan Sabit Merah Indonesia untuk diteruskan ke para korban bencana.

Sebulan kemudian, November (tahun lalu), saat sebagian Thailand – termasuk Thailand Selatan yang mayoritas penduduknya muslim – dilanda banjir, MMIT mengumpulkan pakaian pantas pakai dan dana, menyerahkan bantuan tersebut ke lembaga swadaya muslim setempat untuk disalurkan ke saudara muslim korban banjir di Thailand Selatan.

Demikianlah sekelumit tentang kegiatan MMIT. Bagi para anggotanya, perjumpaan (yang paling tidak) seminggu sekali itu bagaikan oase menyejukkan di antara rutinitas pekerjaan sehari-hari yang dikelilingi budaya dan praktek-praktek peribadatan asing, dan melegakan untuk sekedar mengobrol dalam bahasa ibu yang sama dengan saudara-saudara seiman, setelah sering dalam lima hari di kantor tersesat dalam kesalahpahaman akibat ketaktersambungan bahasa.

Untuk menutup tulisan ini, berikut adalah susunan pengurus MMIT, yang dalam waktu dekat akan ada beberapa pergantian karena beberapa pengurus telah selesai bertugas di Thailand dan kembali ke Indonesia.

Ketua : Dicky Kresnadi

Wakil Ketua : vacum

Sekretatis Umum : Syarif Hidayatullah

Bendahara : Surya Kurniawan

Bidang kegiatan Dakwah dan Kegiatan Khusus Keagamaan : Budi Suswadi

Hubungan Kemasyarakatan : Wawan Anwar Sadat

Auditor Keuangan dan Pengawas Tatib Organisasi (BPK&T) : Abdul Karim Thaufik

Dewan Komisaris ZIS : Dicky Kresnadi, Budi Suswadi, Fikri Waskito.

Featuring members :

Edrifian Oemar, Irawan, Syafni Sukmana, Purwoko Deni Rahwanto, Nursyamsu Hidayat

Keterangan lebih lanjut, hubungi Bapak Dicky Kresnadi, e-mail: Dicky.Kresnadi@worleyparsons.com

Wassalam wwb.