Pada Oktober 1920-an, dalam perjalanan perahu menuju perayaan tahunan di Chedi Klang Nam, seorang Prancis bernama Raymond Pillon Bernier dan beberapa rekannya memutuskan untuk mengambil jalan pintas melalui sebuah kanal di Phra Pradaeng. Pada awalnya semua berjalan lancar, tapi akhirnya laju perahu mereka terhambat. “Kami tidak memperhitungkan tanaman air yang disebut ‘rumput jawa’ (Java grass)… gulma menyedihkan yang pada musim begini menginvasi seluruh kanal. Kanal ini sudah hampir seluruhnya tertutup; sepertinya tidak nampak ada air di bawah perahu kami. Sejauh mata memandang, yang tampak hanya hamparan hijau. Sudah terlambat untuk putar balik; di belakang kami, jalur sudah tertutup hamparan hijau itu. Kami terjebak!” ceritanya.

Tanaman yang dimaksud Bernier adalah eceng gondok (Eichornia crassipes) atau water hyacinth dalam bahasa inggris. Di buku tentang tanaman tropis yang ditulis dan ditujukan untuk orang Eropa, dituliskan bahwa tanaman asal Brasil ini cocok ‘ditaruh dalam tangki air di rumah kaca yang hangat’. Memang eceng gondok ini memiliki sifat ornamental. Bahkan ketika tanaman ini diperkenalkan pertama kali di Asia Tenggara, (sebagian menyebutkan) oleh orang Belanda di Bogor, eceng gondok diperlakukan sebagai tanaman hias yang ditaruh dalam toples besar di teras.

Pada tahun 1871, raja Chulalongkorn (Rama V) mengunjungi Singapura dan Jawa (Indonesia) dan menjadikan perjalanan itu sebagai sejarah baru bagi kerajaan Siam (belum pernah ada raja Siam yang keluar negeri sebelumnya). Setelah tahun itu, dua kali lagi Raja Chulalongkorn kembali ke Jawa, 1896 dan 1901. Dalam salah satu kunjungannya itu, dikabarkan bahwa sang raja untuk pertama kalinya melihat eceng gondok. Dia sangat tertarik pada kecantikan bunga eceng gondok dan membawa pulang beberapa batang tanaman yang di Thailand hingga kini disebut ‘cha wa’, pengucapan orang thailand untuk ‘jawa’. Sang raja menanamnya di kebun kerajaan.

Suatu saat, cha wa lolos keluar dari kebun kerajaan dan menemukan ruang untuk berkembang biak. Awalnya mereka berbiak di sungai Chao Phraya dan pada akhirnya menyebar di setiap sungai dan kanal. Kini seperti pada saat Raymond Bernier menyusuri kanal cabang Chao Phraya hampir seabad lalu, eceng gondok menjadi ‘hama’ utama sungai Chao Phraya, terutama di akhir musim hujan saat kelompok eceng gondok membentuk semacam gundukan pulau besar yang terombang ambing di tengah sungai dan membahayakan putaran baling-baling kapal.

Berbagai macam cara telah dilakukan untuk mengontrol perbiakan eceng gondong yang sangat cepat. Seperti di Indonesia, masyarakat Thailand mencoba mengubah gulma ini menjadi uang: daun dijadikan kompos, batangnya yang berserat dijadikan bahan furnitur, dan sebagainya. Tetapi, saking cepatnya tanaman bandel ini berbiak menjadikan semua usaha itu seolah tak berarti.