Assalamu’alaikum. Sudah lama saya tidak posting artikel. Saat sekarang saya mulai posting lagi, saya sedang berada di kota Atlanta dan saya akan memuat catatan saya tentang kota ini selama beberapa minggu ke depan. Terimakasih atas komentar dan e-mail dari pembaca sekalian.  InsyaAllah saya masih akan posting info-info tentang Bangkok dan Thailand nanti.

Atlanta adalah salah satu rumah bagi komunitas Afrika-Amerika (warga kulit hitam) di Amerika. Kota ini masuk dalam 20 kota-kota di AS dengan presentase Afro-Amerika lebih dari 50% dari total populasi kota. Pada 2010, Atlanta duduk di nomor 15 dengan presentase penduduk Afro-Amerika 54%. Hasil karya mereka di bidang musik dan film yang menggambarkan kultur mereka sendiri (apalagi kalau bukan diwakili oleh hip-hop dan R&B?) cukup menonjol sehingga ia mendapat julukan ‘black mecca’.

Kota Atlanta (tampak dari Piedmont Park)

Kota Atlanta (tampak dari Piedmont Park)

Jadi, seperti juga kalau kita pergi ke Detroit, New Orleans, atau Memphis, kita pada dasarnya berada di kota Afro-Amerika, apalagi kalau anda imigran atau non-imigran yang berkunjung ke Atlanta dan lebih banyak menggunakan transportasi publik dan menyusuri jalan-jalan kota dengan berjalan kaki. Hanya sedikit the whites yang tampak di bus dan kereta Marta (perusahaan transport kota Atlanta).

Tidak aneh rasanya bahwa saya justru lebih merasa nyaman berada di tengah-tengah komunitas dengan komposisi ini. Kenapa? Mereka yang berkumpul di sudut-sudut jalan di Peachtree dan mereka yang matanya setengah tertutup dengan mulut bau alkohol di bangku kereta memang menebar ketidaknyamanan.

Pemuda Afro-Amerika menawarkan tempat parkir untuk tamu Fox

Pemuda Afro-Amerika menawarkan tempat parkir untuk tamu Fox

Tapi mereka ini, warga berkulit berrwarna, seperti yang secara tulus pernah ditulis oleh Michael Moore (kritikus berkulit putih warga Amerika yang juga sutradara film ‘telak’ Fahrenheit 9/11), justru membuat masalah lebih sedikit dari orang kulit putih Amerika. Dan meski mereka dominan di kota ini, mereka minoritas di negara ini, seperti juga saya, seorang Asia. Sentimen kesamaan ini membuat saya nyaman di tengah mereka.

Mereka dilahirkan dengan genetik yang membuat mereka (umumnya) teatrikal kalau berbicara, apalagi dengan logatnya yang khas. Anda pasti tahu logat bicara seorang Afro-Amerika? Coba ingat lagi salah satu seri Bill Cosby, atau Dr. Dolittle. Rasanya seperti saya dikelilingi banyak Eddie Murphy di mana-mana. Sopir bus Marta berbicara seperti bernyanyi rap yang kadang membuat saya sulit menangkap kata-katanya. Mereka benar-benar berbeda.

Curtis

Curtis

Meski komunitas Afro-Amerika dominan di Atlanta, tiap hari Minggu, harian The Atlanta Journal-Constitution hanya memasang satu kotak kecil untuk kartun dengan tokoh Afro-Amerika bernama Curtis (karya Ray Billingsley) di antara lima halaman kartun. Ya, hanya sekotak kecil dari total lima halaman. Anda tahu arah bicara saya? Kalau ya, oh ya, memang itu masih ada di negara yang berpusat di ‘White House’ ini.

Bersambung…

(Syafnee, GA, 20/12/11, 0808pm)