Sejak sebelum saya tiba di Atlanta November lalu, sebagian (kecil?) Amerika sedang terhibur (atau tak peduli?) oleh debat para kandidat presiden partai Republik untuk bertarung melawan Barak Obama di pemilu tahun depan (2012). Sampai akhir November 2011 lalu, ada satu kandidat yang unik untuk disimak: seorang Afro-Amerika asal Georgia, Herman Cain. Karena saya tinggal di kota Decatur, dekat Atlanta, Georgia, saat ini, maka bolehlah kita perbincangkan figur ini sambil minum teh hangat.

Satu kata saja untuk menggambarkan Herman Cain: ironi…

Berikut sedikit tentang latar belakang Herman Cain. Dia lahir pada 13 Desember 1945 di Memphis, Tenessee (dia berusia 66 tahun bulan ini). Karirnya bervariasi, dari seorang ahli matematika di angkatan laut AS, eksekutif di Burger King, CEO di Godfather’s Pizza, hingga chairman di Federal Reserve of Kansas City. Dia juga aktif di politik terutama saat dia menjadi penasehat ekonomi Bob Dole (kandidat presiden dari partai Republik dalam pemilu 1996) dan coba-coba mencalonkan diri menjadi kandidat presiden tahun 2000 (tentu saja tidak ada satu kandidat pun yang akhirnya mengalahkan Bush Junior, bahkan seseorang sekuat Al Gore sekalipun, karena ‘kecurangan dekade ini’ yang diatur oleh pihak Bush).

Tahun ini Cain kembali muncul sebagai kandidat presiden di pemilu 2012 dengan keseriusan dan kepercayaan diri yang tinggi. Kesuksesannya di perusahaan burger dan pizza meyakinkan dirinya bahwa dia bisa menjalankan roda pemerintahan seperti dia menjual pizza. Memang kemudian terlihat bahwa Cain dengan ‘rencana 9-9-9 untuk pembaharuan ekonomi’ memiliki greget. Masyarakat Afro-Amerika mulai merasa bahwa figur ini bisa membuat perubahan bagi mereka.

Tapi Cain bermain api dengan isu-isu sensitif yang dia usung. Yang saya lihat dari kampanye Cain terutama adalah pernyataan-pernyataan yang diskriminatif terhadap Islam dan muslim. Misal, dia mengatakan bahwa “… saya tidak akan memilih seorang muslim menjadi anggota kabinet saya, … masyarakat memiliki hak untuk mencegah pembangunan masjid, … sebagian besar muslim memiliki pandangan ekstrem,” dan pernyataan kontroversial lain. Nah sekarang, apakah anda mulai tertarik dengan sepak terjang figur ini?

Dari awal, Herman Cain memang dikenal sebagai kandidat yang menderita Islamophobia dalam perlombaan menuju pemilu 2012 (selain kandidat perempuan Michelle Bachman yang bersekutu dengan penderita Islamophobic akut Pamella Geller). Sesaat saja, pada awal-awal kampanye, hasil jajak pendapat terlihat cantik bagi Cain. Tapi segera setelah ucapan-ucapan itu muncul, dukungan terhadapnya mulai menguap, meski dia akhirnya meminta maaf pada para pemimpin umat Islam di Virginia pertengahan tahun ini.

Kenyataan pahit lain muncul setelah beberapa kritikus menguak fakta bahwa ternyata mayoritas kaum ‘kulit berwarna’ tidak terkesan dengan kampanye Herman Cain. Mereka bahkan secara provokatif menulis di media independen bahwa sebagian besar rakyat Afro-Amerika yang mendukung partai Republik telah memutuskan bahwa lebih baik tinggal di rumah daripada pergi ke bilik suara dan memilih Herman cain.

Pria yang terlanjur memojokkan Islam ini mendapat pukulan lain baru-baru ini, yang sedemikian telak hingga membuatnya mengundurkan diri dari nominasi calon presiden partai Republik.

Pada akhir November 2011, entah muncul darimana, tiba-tiba seorang wanita kulit putih berbicara di media dan mengejutkan semua orang, terutama simpatisan Cain. Wanita berusia 46 tahun asal Atlanta bernama Ginger White ini mengaku bahwa dia memiliki hubungan gelap dengan Herman Cain selama 13 tahun! (tunggu, 13 ini mirip tanggal lahirnya, bukan?) Hubungan gelap selama 13 tahun itu berakhir 8 bulan lalu saat Cain mulai sibuk dengan kampanye nominasi presiden.

Rumah tangga Cain guncang seketika. Kampanyenya terhenti. Publik tidak mempercayainya lagi. Dukungan suara dan donasi menguap. Statistik di jajak pendapat merosot. Apapun yang terburuk yang bisa dibayangkan seorang kandidat menimpa Cain. Akhirnya, pada tanggal 3 Desember 2011, Herman Cain mengundurkan diri dari pertarungan, dan bergelut untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya.

Well, tuan Cain, masyarakat Afro-Amerika bisa saja sangat bangga pada anda. Tapi apa yang anda lakukan pada Islam dan pada keluarga anda? Saya tahu bahwa anda menjunjung tinggi kebebasan. Anda bilang di situs anda, “We are free because In God Is Our Trust.” Tapi bukankah ‘kebebasan’ sedang mengkhianati anda? What an irony…..

(Syafnee, GA, 21/12/11, 0909pm)