Jumat pagi yang mendung kemarin, saya mengayuh sepeda ke pemberhentian bus dekat rumah untuk pergi sholat Jumat di masjid Al Farooq di Midtown Atlanta (di sini, selain penumpang, sepeda diperbolehkan naik bis dan kereta). Di halte sudah ada seorang kulit putih berambut panjang yang dikucir kuda, duduk di atas kursi roda dengan rokok menyala di tangan kiri dan termos di tangan kanan. Wajahnya yang tua penuh kerutan memberi kesan bahwa dia berusia akhir 50-an. Tapi caranya berbicara memberi kesan yang lain, bahwa dia mungkin di awal 50-an. Kami saling menyapa dan berbincang, perbincangan yang nantinya membawa saya berkutat dengan salah satu sejarah kelam Amerika yang paling absurd yang menempatkan Amerika sebagai pelanggar kemanusiaan dan hukum internasional, yang mungkin salah satu yang terbesar dalam sejarah dunia.

“Halo, apakah anda juga menunggu bus?” tanya saya.

“Ya. Mestinya bus akan tiba sebentar lagi,” jawabnya sambil melihat arlojinya. Cara bicaranya cepat, logatnya agak liar, dan gerak-geriknya gesit – orang dengan tipe yang agak ‘berandalan’.

Kami melanjutkan serentetan obrolan pembuka, sampai akhirnya dia menunjuk kedua kakinya.

“Lihat kakiku… Ini berasal dari Desert Storm,” katanya sambil menarik ujung bawah celana jinsnya.

Saya melihat kakinya dan mengangkat alis sedikit. Ternyata dua-duanya kaki palsu!

“Perang Irak, ya?” tanya saya setelah memproses kata ‘Desert Storm’ dalam otak. Maksud saya dengan ‘perang Irak’ adalah perang teluk saat Irak menyerang Kuwait yang lalu Irak dihajar tentara koalisi yang terdiri dari 34 negara yang dipimpin AS zaman Bush tua (George H. W. Bush) jadi presiden.

“Bukan, Kuwait,” jawabnya cepat. Dia ingin membedakan perang teluk dengan perang Irak yang terbaru yang dimulai pada 2003 zaman anaknya Bush tua, Geroge W. Bush, jadi presiden.

“Sekitar tahun 1992, ya?”

“Tahun 1991. Ini adalah kenang-kenangan ranjau darat. Kamu tahu, ranjau itu tidak ditaruh di sana untuk membunuh, hanya untuk membuat dirimu menderita,” katanya mantap.

Siapa sangka saya berdiri di pinggir jalan dengan seorang veteran dari begitu banyak perang yang tampak menyedihkan (sekilas memandangnya saja, anda akan tahu bahwa orang ini punya masalah ekonomi). Seperti yang pernah saya baca di koran lokal Atlanta, nasib dan masa depan veteran di negara ini, yang sudah mempertaruhkan nyawa berkali-kali dalam perang sekalipun, belum tentu terjamin.

“Saya bergabung di angkatan darat dan bertempur dalam perang Vietnam, Panama, dan Desert Storm.”

Ada semacam ekspresi bangga saat dia menyebut keterlibatannya dalam perang-perang itu. Dia tidak mengira saya adalah orang asing, tapi sebagai fellow American. Saya membiarkannya tetap begitu dengan seolah-olah menghargai keterlibatannya dalam perang-perang itu.

What a history you have there!” seru saya terkejut.

Oh yes, indeed!”

“Omong-omong, saya dengar baru-baru ini kita sudah secara resmi mengakhiri perang di Irak, kan?” saya bertanya.

“Yup, kita sudah selesai di sana. Tapi tahu tidak, di sana masih banyak terjadi aksi-aksi teror. Kita tidak menang di Irak.”

“Bagaimana dengan Afghanistan? Kita masih terus berperang di sana?” saya mencoba terdengar seperti warga Amerika yang lugu.

“Ya, begitulah…”

But it’s not a winning battle for us, is it?” saya coba menguji kejujuran veteran perang bertopi baseball ini.

Oh, no.. it’s NOT a winning battle for us, and I think it will never be one..” katanya mengakui dengan jujur.

****

Anda mungkin sudah familiar dengan perang-perang yang disebutkan si veteran itu. Siapa yang tidak tahu perang AS di Vietnam. Perang yang paling banyak di angkat oleh sutradara-sutradara Hollywood dalam film-film mereka yang kebanyakan ‘memenangkan’ tentara Amerika melawan Vietkong. Faktanya, mereka kalah. Selama perang itu (1959-1975) AS gagal mencabut komunisme dan akar-akarnya di Vietnam Selatan.

Pada tahun 1991, saat perang teluk terjadi dan Desert Storm sedang dioperasikan, saya berusia sepuluh tahun dan tak mengerti apa maksud dan latar belakang berita yang tak sengaja saya tonton di TV pada suatu malam. TVRI menampilkan layar yang gelap yang dipenuhi benda-bena bercahaya yang beterbangan dengan kecepatan tinggi dan jumlahnya luar biasa banyak. Kemudian saya diberitahu bahwa itu adalah langit malam di sekitar teluk dekat Irak dan Kuwait dan benda-benda bercahaya itu adalah amunisi dan rudal-rudal tentara koalasi dan Irak yang sedang berperang. Sejak itu saya tak pernah lupa tentang rudal SCUD legendaris milik Iraq.

‘Perang Panama’? Saya tidak begitu familiar. Anda? Ketika veteran tua itu menyebut “Panama” saya teringat tentang Omar Torrijos dan invasi AS ke Panama tahun 1989. Saya pernah membaca Confessions of an Economic Hit Man karya John Perkins dan dia menggambarkan invasi AS atas Panama ini di bukunya Ternyata yang dimaksud si veteran itu adalah invasi itu. Menurut saya, ini bukan perang, tapi murni penjajahan yang dengan operasi militer yang singkat, Panama City sudah babak belur dan jatuh ke tangan AS. Maka saya kembali membuka buku ‘Confessions of an EHM’ Perkins dan ‘Tangan-tangan Amerika’ karangan Hendrajit dan rekan-rekan.

Invasi AS atas Panama 1989 inilah kabar buruk yang paling absurd dalam sejarah tragedi kemanusiaan dan pelanggaran hukum internasional yang paling dicela dunia hingga 1990-an. Mari kita mulai perbincangan kita dengan santai. Saya menulis posting ini sambil mengudap biskuit asin dengan perlahan tapi berusaha membuat alur cerita berjalan cepat (ini bukan buku sejarah). Perayaan tahun baru malam nanti tidak ada artinya dibanding mengingat kembali salah satu sejarah dunia yang paling aneh.

Era Pra-Omar Torrijos

Mari kita mulai secara singkat tentang Panama (negara di Amerika tengah) sebelum era Omar Torrijos (berarti sebelum 1968). Panama pra-Torrijos adalah Panama yang dipimpin oleh keluarga Arias yang pro kepentingan AS, mendukung kegiatan-kegiatan rahasia CIA dan NSA (keduanya adalah agen rahasia Amerika) untuk ‘mengerjai’ Amerika Selatan dalam gerakan melawan komunisme, dan membantu sepak terjang korporasi Amerika di Amerika Selatan, seperti Standard Oil (milik keluarga Rockefeller; perusahaan ini menjadikan John D. Rockefeller, pendirinya, sebagai orang terkaya di dunia modern saat itu) dan United Fruit Company (yang dibeli oleh Bush Tua). Saat para pemimpin boneka AS itu berkuasa, mayoritas rakyat Panama di luar segelintir komunitas elit Panama menderita dalam kemiskinan akut.

Sementara itu, seseorang yang berkarir cepat di Garda Nasional (angkatan bersenjata Panama) bernama Omar Torrijos, mulai mendengar keluhan rakyat miskin, berjalan di pemukiman kumuh mereka, membuat pertemuan dengan orang-orang di pemukiman kumuh yang tak satu politisi-pun berani datang ke sana, dan menyumbangkan sebagian uangnya yang tak seberapa untuk menolong keluarga-keluarga miskin yang terserang penyakit atau terkena musibah. Kecintaannya untuk orang-orang tertindas itu asli dan dia tidak sedang berburu kekuasaan. Omar Torrijas dengan cepat mendapat simpati dari rakyat Panama bahkan mendapat perhatian dari negara lain di Amerika Selatan.

Era Omar Torrijos

Omar Torrijos melihat kesempatan untuk memperbaiki kondisi rakyat Panama muncul di tahun 1968. Dia dan rekan militernya, Boris Martines, berhasil mengkudeta Presiden Arnulfo Arias, yang baru duduk di kantor presiden 11 hari. Keduanya lalu memimpin Panama dan terlibat dalam persaingan internal. Pada 1969, Torrijos berhasil mengasingkan Martinez dan mengukuhkan dirinya sebagai pemimpin Panama yang sah.

Jendral Omar Torrijos (pemimpin karismatik Panama, 1968-1981)

Jendral Omar Torrijos memimpin Panama dari 1968 hingga sebulan setelah saya lahir di tahun 1981. Dia membuat kebijakan-kebijakan populis dan berdiri di depan rakyatnya menantang Washington dan perusahaan-perusahaan raksasa Amerika yang telah menikmati keuntungan besar pra-Torrijos di atas kemiskinan rakyat Panama. Dia menginginkan kedaulatan penuh atas Panama, termasuk terusan Panama. Negara Panama kebetulan dilewati segaris wilayah ‘real-estat dunia paling berharga’: Terusan Panama. Karena itu, hingga era Torrijos, Amerika menguasai terusan ini dan bercokol di tepiannya. Torrijos ada untuk membebaskan Terusan Panama dan mengembalikannya pada rakyat Panama.

Pada 1977, setelah negosiasi yang panjang, Presiden AS Jimmy Carter mencapai kesepakatan dengan Omar Torrijos tentang Terusan Panama. Mereka sepakat bahwa Terusan Panama akan dikendalikan penuh oleh Panama mulai pagi hari tanggal 1 Januari 2000. Ini adalah kemenangan besar bagi Torrijos dan Panama. Carter harus membayar harga yang besar karena ‘kehilangan’ Terusan Panama itu. Di pemilu presiden tahun 1980, dia kalah dari aktor Hollywood Ronald Reagan akibat, salah satunya, kesepakatan Terusan Panama itu. Torrijos kini bergulat melawan Reagan yang sangat anti dirinya dan yang kita ketahui sebagai promotor kapitalisme pasar bebas (neo-liberalisme), bersama Margaret Thatcher, yang membela kepentingan korporasi menguasai semaksimal mungkin sumberdaya negara lain.

Sedemikian kuat dan beraninya Omar Torrijos menantang hegemoni AS hingga ia dianggap pahlawan tidak hanya oleh rakyat Panama, tapi juga  oleh sebagian besar warga Amerika Selatan, dan bahkan dunia membicarakannya. Banyak artikel menggambarkannya sebagai “tokoh yang bisa mengubah sejarah Amerika dan menghentikan kecenderungan lama dominasi dunia oleh Amerika.”

Akibat dari fakta ini, yang disadari betul oleh Torrijos, adalah dia menjadi sasaran ‘The Jackals’, sebutan untuk CIA. Permainan Amerika—melalui CIA—bernama ‘I don’t like you, I terminate you’ berlaku untuk Torrijos. Tanggal 31 Juli 1981, Omar Torrijos tewas dalam ‘kecelakaan pesawat’. Rakyat Panama, Amerika Latin dan dunia terhenyak seketika. Artikel dan editorial dipenuhi judul-judul seperti “CIA Assasination!” di mana-mana.

Era Pasca-Torrijos

Semoga anda bersabar membaca artikel ini. Semua gulungan sejarah tadi nantinya mengarah ke invasi AS yang sangat aneh ke Panama City tahun 1989, yang mungkin mengingatkan kita pada Iran saat ini.

Antara kematian Torrijos hingga 1983, Panama berada dalam kondisi ruwet. Dalam masa hanya 2 tahun itu, terjadi pergantian pemimpin Panama beberapa kali. Pertama, Florencio Flores Aguilar menggantikan Torrijos. Setahun kemudian dia dikudeta Kolonel Paredes, dan hanya selang setahun juga Paredes menyatakan pensiun dan menyerahkan kepemimpinan pada Manuel Noriega. Manuel Noriega berkuasa mulai 1983 hingga 1989 saat dia digulingkan AS dalam invasi AS tahun 1989 hingga Panama menemui titik balik sejarahnya.

Pada awalnya Noriega memiliki idealisme yang mirip dengan Torrijos. Salah satu yang ingin diteruskannya dari impian Torrijos adalah membangun Terusan Panama memakai perusahaan konstruksi Jepang (bukan perusahaan Amerika). Tentu ini mendapat tentangan keras dari Washington. Reagan menghendaki proyek bernilai milyaran dolar itu dikerjakan oleh perusahaan Amerika. Bechtel adalah perusahaan konstruksi mega yang ada di belakang Reagan. Noriega tetap bertahan di tengah tekanan AS. Dia bahkan menolak perpanjangan 15 tahun ‘School of the Americas’, sebuah sekolah militer dengan fasilitas canggih milik AS yang berlokasi di tepi terusan Panama.

Manuel Antonio Noriega

Tapi Noriega bukanlah Torrijos. Segera saja dia terlibat dalam korupsi dan peredaran narkotika untuk memperkaya diri. Saat rakyat dunia melihat Torrijos sebagai lambang keadilan dan kesetaraan, Noriega dipandang sebagai lambang dekadensi. Dekadensi ini dimanfaatkan Ronald Reagan, biang neo-liberalisme yang membela korporasi Amerika, untuk mulai menggarap rencana menghabisi Noriega. Rencana disusun mulai 1986. Untuk melenyapkan dekadensi moral seorang pemimpin yang bisa membahayakan rakyatnya? Tentu saja bukan.

Eksekusi dilakukan pada 20 Desember 1989, pada saat Bush tua (George H.W. Bush) baru saja masuk Gedung Putih menggantikan Ronald Reagan. Dilaporkan bahwa AS memborbardir Panama dalam serangan udara paling hebat terhadap sebuah kota sejak Perang Dunia II! Ini adalah serangan tanpa provokasi apapun dari pihak yang diserang yang memusnahkan hidup banyak rakyat sipil! Panama dan rakyatnya tidak sedang membahayakan keamanan nasional AS atau negara manapun di dunia. Politisi, pemerintah, dan media di seluruh dunia tercengang dan mencela serangan AS terhadap Panama City itu. Inilah yang saya maksud sebagai ‘absurd’.

Serangan udara itu membakar sebagian besar Panama City dan membunuh warga sipil dalam jumlah luar biasa banyak dalam situasi ‘perang satu pihak’ dan tempo sesingkat ini. Sekertaris Pertahanan AS waktu itu, Richard Cheney, menyatakan bahwa korban tewas akibat serangan udara itu sebanyak 500 hingga 600 jiwa. Sementara organisasi-organisasi kemanusiaan mencatat korban meninggal berkisar 3 hingga 5 ribu jiwa! Kisaran itu cukup lebar. Ini karena sulit membuat figur yang pasti karena tentara AS menutup Panama City selama tiga hari setelah pengeboman dari jurnalis dan aktivis. Ini yang saya maksud tragedi kemanusiaan.

Justifikasi Amerika atas serangannya terhadap Panama (yang diikuti kemarahan dunia waktu itu)? Satu-satunya alasan adalah: The Man (maksudnya Noriega). AS menyerang Panama semata-mata karena Noriega dianggap jahat, musuh rakyat, monster pengedar narkotik menakutkan. Anggapan itu membuat AS merasa punya cukup alasan untuk meringkus Noriega. [Tapi kalau sambil membunuh ribuan warga sipil yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan monster Noriega???? Sulit diterima logika hukum dan kemanusiaan planet manapun!!!!] Padahal dunia tahu bahwa bukan itu kesalahan Noriega di mata AS. Kesalahan Noriega adalah: kukuh menghormati kesepakatan Terusan Panama Torrijos-Carter (yang tidak dikehendaki Reagan atau Bush) dan terus menggali kemungkinan menyerahkan proyek pembangunan Terusan Panama bernilai milyaran dolar ke perusahaan Jepang, bukan Bechtel atau perusahaan Amerika lain. Jadi anda bisa lihat pihak mana yang sebetulnya jahat?

Di tengah ramai kecaman dunia, AS dengan cuek menciduk Noriega, mengirimnya ke Miami, mengadilinya dan menjebloskannya ke penjara Amerika. Sungguh absurd…

****

“Apakah anda berkeluarga? Punya anak-anak?” tanya saya tepat saat gerimis mulai turun.

“Ya, dua anak. Mereka tinggal di daerah lain bersama ibunya,” jawab mantan tentara itu.

“Jadi anda tinggal sendiri sekarang?”

“Ya… Oh, tidak, saya tinggal dengan kucing saya. Saya pernah kecanduan narkotik dan alkohol dan hidup saya hancur… Sampai sekarang keluarga saya membenci saya. Anak-anak tidak menelpon saya Natal kemarin…,” sekarang ekspresinya jauh dari bangga seperti saat dia menceritakan perang-perangnya.

Untuk menghindari kesedihan semacam itu, saya mengalihkan pembicaraan dan bertanya kemana tujuannya. Jawabannya justru mengantarnya ke kisah buruk lainnya yang tentu saja sebetulnya tidak saya harapkan.

“Saya perlu ke pusat kesehatan Decatur. Kamu lihat ini?”

Dia membuka topinya, sedikit menunduk untuk memperlihatkan ke saya bagian atas kepalanya. Masha Allah! Ada jahitan di sela-sela rambut kelabunya yang jarang, jahitan yang terbuat dari logam, seperti stapler yang ditancapkan berjajar.

“Seseorang memukul kepalaku dengn botol kosong di sebuah tempat parkir di dekat mal. Dia merampas dompetku….”

Setelah dia menyelesaikan kalimat itu, bus nomor 19 yang kami tunggu mendekat dan saya mengikuti veteran perang itu menaiki bus sambil membayangkan apa yang dilakukan orang ini di Panama dulu. Menembaki warga sipil? Menodongkan senjata pada jurnalis untuk mundur? Atau dia yang meringkus Noriega di kediamannya? Saya tidak mau berprasangka apa-apa. Hidupnya sudah sungguh berat saat ini……

(Syafnee, GA, 31/12/11, 0505pm)