Sudah lama saya ingin menulis tentang masijd Haroon yang berlokasi di bantaran sungai Chao Phraya. Lokasinya dekat dengan kantor Bea Cukai tua yang kini sudah tidak dipakai sebagai Customs House lagi. Masjid unik ini juga dekat dengan kedutaan besar Prancis Bangkok di bilangan Charoen Krung, Bang Rak. Fakta bahwa pendiri masjid ini adalah orang Indonesia dan khutbah Jum’at dilakukan dalam dua bahasa membuat posting ini – bagi saya – mendapat tempat istimewa dalam blog ini.

Kalau Anda sudah kenal Bangkok, mari saya mulai dari lokasi pas masjid Haroon. Masjid ini bisa diakses dari jalan Charoen Krung, jalan yang membujur sejajar dengan salah satu lengkungan sungai Chao Phraya, di bagian timur sungai. Lokasi masjid ini masuk ke Charoen Krung soi (gang) 36. Paling mudah mencari kalau kita sudah menemukan kedutaan besar Prancis. Nah, masjid ini tidak jauh dari kedubes Prancis ini. Stasiun skytrain BTS yang terdekat adalah stasiun Saphan Taksin sedangkan dermaga terdekat adalah Oriental Pier. Deskripsi ini juga cukup jelas untuk pelancong yang baru kenal Bangkok.

Dahulu, sekitar tahun 1830-an, ada pedagang asal Pontianak (Pon Choe Nah di lidah orang Thai), Indonesia, yang berniaga jauh dari Indonesia hingga ke Malaysia dan Siam (kini disebut Thailand). Pada 1837, pedagang keturunan arab ini, Musa Bafadel, singgah di sebuah kampung bernama Ton Samrong di tepi sungai Chao Phraya.

Musa memutuskan untuk tinggal sementara di kampung yang sekarang adalah bagian tengah kota Bangkok dan memboyong tiga anak lelakinya: Haroon, Uthman, dan Ishaq. Setelah beberapa lama tinggal di sana, Uthman pergi ke Malaysia dan tinggal di sana, Ishaq berlayar ke Kamboja dan tinggal di sana, sedangkan Haroon tetap tinggal di dusun Ton Samrong di tepian sungai Chao Phraya. Setelah ayahnya meninggal, Haroon meneruskan bisnis ayahnya berdagang dan sering bepergian antara Bangkok dan Ayutthaya (sekarang menjadi kota dengan nama sama di utara kota Bangkok).

Semasa berbisnis di Siam, Haroon berjumpa dengan wanita Thai bernama Umdang Poom yang lalu dinikahinya. Mereka memiliki putra semata wayang yang diberi nama Muhammad Yusuf. Pada masa yang sama, Haroon membangun masjid di dusun Ton Samrong untuk keperluan ibadahnya dan komunitas kecil muslim saat itu. Awalnya masjid ini disebut ‘Masjid Ton samrong’, sesuai dusun di mana masjid ini didirikan.

Gang masuk ke Masjid Haroon (kredit: Syafnee)

Konstruksi masjid yang dibangun oleh tuan Haroon saat itu sangat sederhana. Seluruh bagian masjid yang hanya satu lantai itu dibuat dari kayu. Bagian lantainya ditinggikan. Disebutkan juga bahwa arsitektur awal masjid ini adalah perkawinan gaya Jawa dan Ayutthaya. Mungkin tuan Haroon pernah berkunjug ke Jawa dan terkesan dengan arsitektur Jawa.

Sembari membangun, kegiatan di masjid sudah mulai dijalankan Haroon bersama komunitas muslim di situ. Dia didapuk menjadi imam pertama masjid.

Setelah Haroon meninggal, putranya, Haji Muhammad Yusuf, menggantikan ayahnya menjadi imam masjid.

Pada 1899, zaman Raja Rama V bertahta, pemerintah kota Bangkok menilai bahwa lokasi di mana masjid Ton Samrong berdiri cocok didirikan kantor bea cukai. Pemerintah telah menyiapkan sebidang tanah untuk masjid Ton Samrong dan menawarkan ke Muhammad Yusuf untuk memindahkan masjid tersebut di sebidang tanah tadi. Lokasi tanah tidak jauh dari lokasi awal tetapi lebih masuk ke darat menjauhi sungai Chao Phraya. Haji Muhammad Yusuf sepakat lalu membongkar struktur kayu masjid dan memindahkannya ke lokasi baru.

Kondisi masjid yang telah dibangun di lokasi baru tersebut makin lama makin memburuk. Kayu-kayu mulai lapuk. Untuk menyelamatkan masjid dari kehancuran total, pada tahun 1934, masjid dibongkar dan kayu-kayu yang masih baik diselamatkan. Dengan uang sendiri, terutama dari uang hasil penjualan tanah milik keluarganya di jalan Silom, dan sumbangan dari muslim asli Thai dan pedagang-pedagang India, Haji Muhammad membangun kembali masjid dengan batu bata dan batu kapur. Kayu-kayu bekas masjid lama masih dipergunakan di beberapa bagian masjid baru, misal bagian lantai dan tiang-tiangnya.

Masjid itu lalu dinamai – yang dalam bahasa Thai berarti – ‘Masjid Belakang Kantor Bea Cukai’ karena lokasinya memang di belakang kantor Bea Cukai lama yang ‘tukar guling’ dengan masjid Tong Samrong. Ada pula yang menyebutnya ‘Masjid Wat Muang Khae’. Nama ini disematkan karena lokasi masjid yang juga dekat dengan kuil Buda Muang Kare, di jalan Charoen Krung, gang nomor 34.

Dikabarkan juga dalam sejarah singkat masjid ini bahwa ukiran-ukiran tulisan arab di dinding masjid adalah karya Haji Said yang juga berasal dari Pontianak. Namun, tidak jelas apa hubungan Haji Said dengan keluarga Bafadel.

Tahun 1947, di bawah undang-undang kerajaan Thailand yang mengatur tempat ibadah umat Islam di Thailand, masjid ini didaftarkan dengan nama ‘Masjid Wat Muang Khae’. Namun kemudian namanya diganti menjadi ‘Masjid Haroon’, untuk mengenang jasa tuan Haroon Bafadel bin Musa Bafadel, sang pendiri dan imam pertama masjid. Nama ini digunakan hingga kini.

Pintu masuk masjid (kredit: nileguide.com)

Suatu kali di hari Jum’at, saya berkesempatan untuk sholat Jum’at di masjid Haroon. Saat ini masjid Haroon berlantai dua. Jemaah, yang saya lihat dari fisiknya, tampaknya berasal dari beragam etnis dan negara. Kawasan sekitar, terutama di sepanjang jalan Charoen Krung dan di gang-gangnya, adalah kawasan bisnis, kedutaan, dan hotel-hotel berbintang. Pantas saja kalau jemaah juga terlihat berasal dari berbagai negara.

Itulah juga kiranya, khutbah disampaikan dalam dua bahasa: bahasa thai dan inggris. Selama saya tinggal di Thailand, baru kali itu saya bersholat Jum’at di masjid yang khutbahnya bilingual. Mungkin ada juga masjid-masjid lain di Bangkok di kawasan ramai pendatang asing yang menggunakan bahasa Thai dan Inggris. Mungkin masjid di kawasan soi Nana juga demikian (saya pernah sholat shubuh tapi belum pernah sholat Jumat di sana). Seperti sebagian pembaca tahu, soi Nana di jalan Sukhumvit adalah kawasan yang dipenuhi pebisnis dan pelancong dari Timur Tengah dan Afrika. Kalau kita sedang berada di soi Nana, kita berfikir bahwa kita sudah bukan di Bangkok/Thailand lagi.

Begitu dulu, ya, posting kali ini. Saya nanti juga akan bercerita sedikit tentang restoran halal yang berada dekat dengan masjid Haroon ini. Jangan lewatkan posting itu nanti, ya!

Wassalam.

**Catatan unik: orang Thai akan mengucapkan nama ‘Bafadel’ menjadi ‘Bafaden’. Dalam khasanah bahasa Thai, kata-kata yang berakhiran huruf ‘L’ sering diucapkan ‘N’. Misalnya yang sering saya dengar dari rekan-rekan Thai saya, kata ‘football’ akan terucapkan ‘fut-bon’. Tentu saja tidak semua orang thai begitu, ya..