Saat Abu Dzar Al Ghiffari, dengan dibantu Ali bin Abu Thalib ra, akhirnya bertemu dengan Rasulullah saw. di masa-masa awal dakwah beliau di Mekah, dia segera bersyahadat. Rasulullah menyuruhnya untuk kembali ke daerah asalnya hingga dia mendengar kemenangan Rasulullah untuk kemudian bergabung dengan Rasulullah kembali. Tapi Abu Dzar malah berkata,

“Demi Dia yang telah mengutus engkau dalam kebenaran, aku akan mengumumkan ke-Islamanku secara terang-terangan di hadapan mereka kaum musyrikin.”

Abu Dzar segera beranjak ke Ka’bah dan berseru di depan orang-orang kafir Quraisy:

“Hai, kalian orang-orang Quraisy! Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad itu hamba dan Rasul Allah!”

Karenanya, Abu Dzar ditangkap dan dipukuli hingga hampir mati oleh orang-orang kafir itu. Allah menolong Abu Dzar dengan kenyataan bahwa beliau berasal dari suku Ghifar. Suku Ghifar hidup di antara Mekah dan Syam (sekarang Suriah) dan dilewati kafilah dagang Quraisy jika mereka menuju Syam. Jadi saat paman Nabi, Abbas, mengingatkan orang-orang yang gelap mata dan hatinya itu bahwa orang yang mereka pukuli itu dari suku Ghifar, dan bahwa jika dia mati maka jalur ke Syam akan tertutup, maka berhentilah mereka menganiayanya. Abu Dzar pun selamat.

Apakah Abu Dzar menyelisihi permintaan Nabi Muhammad saw untuk pulang dan sementara menyembunyikan keimanan hingga waktunya tiba? Ya. Tapi Rasulullah juga tidak mencegahnya saat Abu Dzar pergi untuk mengumumkan ke-Islamannya yang artinya mempertaruhkan nyawa Abu Dzar sendiri. Sesungguhnya dengan demikian, Rasulullah segera tahu bagaimana kualitas keimanan seorang Abu Dzar hanya dalam beberapa menit lewat dari ucapan syahadatnya.

Dan benar saja, hamba Allah ini kemudian menjadi salah satu permata berkilau di sisi Nabi: Abu Dzar adalah sahabat yang berhasil mengislamkan hampir seluruh bani Ghifar yang dulunya dikenal sebagai suku perompak, sahabat yang roboh kehausan di perjalanan menuju perang Tabuk padahal dia memeluk sekantong air yang katanya ditemukannya di jalan dan akan dipersembahkannya untuk Rasulullah dahulu, dan sahabat yang kezuhudan dan ilmunya membuat Ali ra. memujinya.

Jika situasi yang sama ada pada zaman ini, siapa yang akan seberani Abu Dzar? Alhamdulillah, meski situasi tidak sama persis, kita masih bisa melihat keberanian semacam ini, di zaman ini, di tanah Syam yang sekarang kita kenal sebagai Suriah.

***

Seorang ulama dari Suriah, Syaikh Ghayyats Abdul Baqi, semoga Allah melindunginya, berkeliling dari masjid ke masjid di Indonesia untuk menceritakan penderitaan kaum muslim di Suriah yang sedang disiksa dan dibantai oleh presiden mereka sendiri, Bashar al Assad, semoga Allah melaknatnya, yang beragama Syi’ah Nusairiyah. Dengan 35.000 muslim gugur termasuk lebih dari 5.000 wanita dan anak-anak dalam tempo 18 bulan (sejak Maret 2011 hingga kini) dan masih berlangsungnya pembantaian itu hingga sekarang, tak terperikan lagi penderitaan kaum muslim dalam baris-baris tulisan yang dingin ini. Tak terperikan bagaimana 100-200 orang muslim dibunuh tiap harinya. Bahkan sebuah cuplikan video penyiksaan yang mengernyitkan hati pun belum bisa memerikan penderitaan mereka, saudara-saudara kita, yang sesungguhnya.

Pada suatu sore, digambarkan dalam sebuah video yang disiarkan dalam tabligh Syaikh Ghayyats dan akh Angga Dimas Persada (Hilal Ahmar Society Indonesia) di masjid Baiturrahman Yogyakarta, tampak sekelompok tentara Bashar al Assad mengelilingi dan menodongkan senapan serbu ke kepala seseorang yang tersembul di atas tanah; badannya telah dikubur dalam tanah bercampur serpihan beton-beton yang hancur karena bom dan mortar Bashar. Pria muslim yang terkubur hingga leher itu merintih-rintih. Kemudian terdengar suara tentara itu yang menghardik sang pemuda untuk mengucapkan kalimat kufur, “Qul! Laa ilaaha illa Bashar!” (Katakan! Tiada tuhan selain Bashar!).

***

Siapakah sahabat yang menjadi guru besar pengorbanan hasil didikan langsung Nabi Muhammad saw? Dialah Khabbab bin Arrats, sang pandai besi. Karena keimanan baru Khabbab pada Allah dan RasulNya, orang-orang Quraisy mengubah besi-besi di rumah Khabbab menjadi belenggu dan rantai besi. Belenggu dan rantai besi itu lalu mereka masukkan dalam api hingga membara lalu mereka mengikatkannya ke kedua tangan dan kaki Khabbab. Besi yang membara itu perlahan memadam oleh lelehan darah Khabbab yang teguh menggenggam imannya.

Pernah, akibat siksaan yang tak alang kepalang itu, Khabbab dan beberapa kawan sependeritaannya menemui Rasulullah dan berkata:

“Ya Rasulullah, tidakkan engkau akan memintakan pertolongan bagi kami?”

Rasulullah pun duduk dengan muka merah lalu bersabda:

“Orang-orang sebelum kamu ada yang disiksa dengan digalikan tanah lalu ia ditanam di situ hidup-hidup hingga ke lehernya. Kemudian dibawakan gergaji lalu gergaji itu diletakkan di atas kepalanya, kemudian dia dibelah menjadi dua dan disisir dengan sikat besi hingga tinggal kulit dan tulangnya. Tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya. Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, Allah akan menyempurnakan urusan ini sampai seorang penunggang berjalan sendirian dari Shan’a ke Hadhramaut dan tiada yang ditakutinya kecuali Allah, dan tidak takut serigala akan memakan kambingnya… tapi tampaknya kalian tegesa-gesa….”

Bisakah kita, dengan kadar iman kita sekarang, menerima bahwa jika seseorang mengikat kita dengan rantai besi membara agar kita melepas iman kemudian kita mengeluh karenanya dan mohon didoakan, maka kita disebut ‘tergesa-gesa’ mengharapkan pertolongan pintas dari Allah?

Nabi sedang menggali cadas terkeras untuk membangun pondasi terkuat bagi Islam. Maka beliau membutuhkan sahabat-sahabat dengan mental terkokoh untuk membantu beliau. Dan pesan beliau tadi, yang bagi kita terdengar ‘absurd’ atau ‘tak mungkin diterima kekuatan manusia kini’ justru membuat mental Khabbab lebih keras dari besi-besinya yang ditempa. Saat Ummi Anmar, bekas majikan yang telah membebaskannya, meletakkan besi panas menyala di ubun-ubun Khabbab, ia menahan nafasnya dan tak sedikitpun keluhan keluar dari mulutnya yang akan membuat musuh-musuhnya gembira.

***

Dan begitu pulalah sang pemuda muslim Siria yang terkubur hingga lehernya itu. Karena ia menolak kalimat kufur itu dan menggigit akidah islamiyahnya erat-erat dengan gerahamnya, maka kepalanya pun perlahan tenggelam dalam tanah bercampur serpihan beton yang ditumpahkan oleh tentara terlaknat Bashar al Assad yang terlaknat pula. Di akhir cuplikan itu, kepala sang pemuda telah hilang dalam tumpukan tanah. Dia terkubur hidup-hidup. Maha Suci Allah yang telah meneguhkan iman muslimin yang teraniaya….

Horor yang tampak di mata kami yang berkaca-kaca saat itu, saat syaikh Ghayyats dan akhi Angga (beliau adalah anggota tim bulan sabit merah yang mengunjungi perbatasan Turki dan Suriah untuk misi kemanusiaan) bercerita dan menampilkan foto dan video, bagai setangkup air di melimpahnya air sungai Eufrat yang mengaliri Suriah. Jenis penyiksaan fisik dan mental yang paling mengerikan dan biadab yang bisa kita bayangkan mungkin ada di sudut-sudut kota Damaskus, Aleppo, Homs, atau Idlib, bersama dengan penindasan sangat keras terhadap kaum muslimin lain di Burma, Palestina, Irak, Iran, Afghanistan, Pakistan, Libya (zaman Kadafi) dan Mesir (zaman Hosni Mubarak). Skalanya sungguh mengerikan; bukan skala Baghram, Abu Ghraib, atau Guantanamo Bay, ini skala yang jauh lebih masif yang mengingatkan saya pada korban-korban muslim Bosnia akibat kebiadaban tentara Serbia sekitar tahun 1990 dan tragedi Nakba 1948.

Tapi Syaikh Ghayyats menenangkan kami, “Kalian tidak perlu khawatir, ada sejuta pemuda yang penuh semangat siap melawan tiran dan mempertahankan Islam. Kami tak akan kehabisan prajurit dan akan merebut kemenangan demi kemenangan…” Allahu akbar!

Lalu apa yang mereka butuhkan? Akh Angga menceritakan pengalamannya mengurus pengungsi di perbatasan Suriah. Para pengungsi membutuhkan obat-obatan, makanan, dan dana untuk membayar biaya RS di wilayah Turki. Kabarnya, kaum muslimin pengungsi Suriah yang berobat di satu RS itu telah menanggung hutang biaya berobat sebesar USD 130.000. Itu baru satu RS saja, padahal korban-korban perang sangat banyak dan dikirim ke banyak RS di Turki. Saya ingin bercerita lebih banyak tentang apa yang saya dengar dari mereka. Tapi itu akan terlalu panjang, jadi jika memungkinkan, cerita akan dirangkum dalam posting lain.

***

Khabbab bin Arrats akhirnya bertahan hidup. Ketabahannya telah menganugerahkan beliau waktu yang cukup hingga akhirnya Rasulullah melihat sendiri dirinya disiksa. Saat suatu hari Rasulullah lewat di hadapan Khabbab sementara Khabbab sedang tersiksa dengan besi panas yang menghanguskan kepalanya, Rasulullah pun berdoa, “Ya Allah, limpahkanlah pertolonganMu kepada Khabbab.” Doa itu terkabul dan Ummi Anmar menerima qisas dengan penyakit aneh yang membuatnya harus disetrika kepalanya dengan besi menyala justru untuk menyembuhkannya. Jadi orang-orang datang untuk ‘menyetrikanya’ tiap pagi dan sore.

Kalau pun ketabahan kaum muslimin tidak membuatnya bertahan hidup seperti Khabbab, memang itulah takdirnya dan Allah telah menyiapkan balasan yang indah di akhirat kelak, tidak dengan kehidupan di dunia ini. Dan kalaupun pembantai kaum muslimin semacam Bashar al Assad dan bapaknya (Hafedz al Assad yang setali tiga uang) tidak segera menghentikan kedzaliman mereka, maka Allah pun telah menyiapkan balasannya.

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengn ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang yang dzalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki” (Ibrahim 27)

Ada dua hal yang ingin saya sampaikan sebagai penutup.

PERTAMA. Saya menyerukan kepada seluruh kaum muslimin untuk memahami apa yang terjadi di Suriah saat ini. Sesungguhnya yang terjadi adalah perang agama, perang akidah, dan bukanlah konflik politik dalam negeri Suriah. Ini adalah pembantaian muslim oleh kelompok ekstrim yang agamanya, Syiah Nusairiyah, mengajarkan bahwa membunuh muslim adalah bentuk ibadah tertinggi kepada Tuhan. Maka, dengan memohon, tolong layangkanlah perhatian antum sekalian ke bumi Syam dan lihatlah apa yang terjadi di sana saat ini. Meski muslim adalah mayoritas di Suriah, tapi kelompok presiden Bashar al Assaad beragama Syiah Nusairiyah ini mendapat dukungan dari Iran yang merupakan negara Syiah Rafidah (Imamiyah) terkuat saat ini, dan dari negara sosialis raksasa Cina dan Rusia. Mereka bahu membahu dalam memberantas kaum muslimin, maka kita pun harus bahu membahu membantu saudara-saudara kita seiman di sana, semampu kita. Organisasi sosial kemanusiaan seperti Hilal Ahmar Society Indonesia bisa menyalurkan bantuan dana untuk pengungsi Suriah. Janganlah mempercayai apa yang ditulis media-media barat dan sekuler lokal, tapi dengarkanlah apa yang para ulama-ulama dari golongan yang tertindas ini katakan karena merekalah yang meneteskan air mata dan darah pertama di ladang jihad di bumi Syam.

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta mencintai, sayang menyayangi, dan bantu membantu di antara sesamanya laksana satu jasad. Apabila salah satu bagiannya sakit, yang lain tiada bisa tidur di malam hari, dan menggigil demam.” (HR Muslim, dari An Nu’man ibn Basyir)

KEDUA. Saat Islam membuat kita bangga dan bahagia, maka sekeras apapun siksa yang sedang atau akan kita terima karena akidah kita, kita akan selalu mengatakan dengan terbuka, “Saksikanlah bahwa aku seorang Muslim!” dan menunjukkannya dengan pengamalan ajaran-ajaran Islam dalam hidup sehari-hari. Tak ada yang kita sembunyikan. Kita berbeda dengan golongan yang mengaku bahwa Islam adalah akidah mereka tapi di mana-mana mereka mengelabui umat dengan menyembunyikan keimanan mereka yang sesungguhnya sesat. Mereka ini antitesis Abu Dzar Al Ghifari, tapi tidak akan pernah ada sintesis taqiyah menjadi proklamasi bagi mereka, kecuali saatnya telah tiba. Alasan mereka, “Saat sekarang kita kecil, kita akan diitindas oleh yang besar.” Dua hal: 1) Kalau mereka mengaku bagian dari Islam, buat apa mereka takut dengan golongan Islam yang lain? Sungguh absurd. Sesungguhnya mereka tahu bahwa mereka tersesat dan bukanlah bagian dari umat Islam maka mereka harus ‘bersembunyi’ agar selamat; 2) Pernyataan tadi bisa dibaca: “Kalau kami telah menjadi besar, kami akan menindas yang kecil” (artinya menindas kaum muslimin yang tidak sealiran dengan mereka). Sungguh mengerikan.. Dan inilah yang sekarang sedang terjadi di Suriah… Ayyuhal ikhwan, jauhilah ajaran agama Syi’ah ini…

Wallahu’alambisshawab..

Syafnee, 25 Zulqaidah 1433 H