[Posting ini dinukil dari buku ‘Muslim Traveler’ (2009) karya sobat al akh Heru Susetyo yang telah melanglang buana ke beberapa negara dan menuliskan pengalamannya di buku ini. Informasi dalam artikel ini sesungguhnya adalah hal awal yang baik untuk diketahui rekan-rekan yang baru tinggal di Thailand atau berniat berkunjung ke Thailand]

“Masyarakat Thai nonmuslim relatif berlaku baik. Hanya saja pengetahuan mereka tentang Islam amat minim. Mereka memahami Islam sebatas melarang makan daging babi”

Mendengar kata Thailand, imaji kita mestilah mengembara ke negara gajah putih yang terkenal eksotis dengan daerah wisata cantiknya seperti Phuket, Ayutthaya, maupun Chiang Mai. Bagi mereka yang berpikiran nakal, kata ‘Thailand’ mestilah identik dengan daerah turisme syahwat yang terkenal di mancanegara dan menyedot devisa luar biasa besar.

Sebagai negeri jiran, bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, Thailand relatif kurang dikenal dibandingkan Malaysia maupun Singapura. Perbedaan bahasa, agama, dan budaya seringkali dituding sebagai penyebabnya. Mayoritas rakyat Thai berbahasa Thai, beragam Budhha, dan memiliki budaya yang berakar kuat pada tradisi Sino-Siam yang berakulturasi dengan tradisi Buddha-Hindu. Amat berbeda dengan Malaysia, Singapura, ataupun Brunei Darussalam, yang sebagai negeri Jiran nyaris memiliki kesamaan bahasa dan budaya dengan penduduk Indonesia.

Negeri ini berbatasan darat dengan Myanmar (Burma) di sebelah barat dan Utara, Laos di utara dan timur, Kamboja (Cambodia) di timur, dan Malaysia di selatan. dengan luas wilayah sekitar 514.000 km2, luas Thailand hanya sekitar seperempat dari luas Indonesia. Demikian juga denganpenduduknya. Data pada bulan Juli 2006 menunjukkan bahwa penduduk Thailand berjumlah 64 juta jiwa, seperempat dari jumlah penduduk Indonesia.

Negeri yang kini bernama Thailand pada mulanya adalah suatu negeri berbentuk kerajaan yang telah berdiri sejak abad ke 6 dan 7 Masehi. Sedari awalnya kerajaan ini telah lekat dengan pengaruh Buddha dan Hindu. Penguasa kerajaan ini juga berganti-ganti. Mulai dari kerajaan Dvaravati pada abad ke 6 dan 7, kemudian Khmer pada abad 11 Masehi, Sukhothai (abad 13), kerajaan Burma (abad 16-18), dan Siam yang antara lain ditandai dengan berkuasanya dinasti Chakri (dengan gelar rajanya adalah ‘Rama’) hingga kini.

Pada 1932 melalui suatu revolusi tak berdarah, Thailand berubah bentuk dari kerajaan (monarki absolut) menjadi monarki konstitusional, dengan raja sebagai kepala negara dan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan. Nama ‘Thailand’ sendiri sebagai nama resmi negara ditahbiskan oada 1939 menggantikan nama ‘Siam’.

Tradisi Buddha (menurut Buddha Theravada) dan Hindu yang mengakar kuat di Thailand hingga kini, dengan populasi warga Thai Buddhist lebih dari 80%, menyebabkan Thailand sering disebut sebagai negara Buddha. Orang Thai juga sering disebut orang Buddha. Ada semacam generalisasi dan stereotip bahwa menjadi Thai berarti menjadi Buddha. Sama seperti stereotip yang berkembang di Malaysia dan Indonesia menjadi melayu otomastis menjadi Muslim.

Kenyataannya tidak demikian. Kendati warga Buddha memang mayoritas, Thailand juga memiliki penduduk yang tidak Bergama Buddha. Warga minoritas ini ada yang beragama Islam, Hindu, Kong Huchu, Kristen (pen.), bahkan aliran kepercayaan.

Keberadaan komunitas Muslim sendiri cukup signifikan. Mereka tersebar di banyak provinsi di Thailand. Tidak hanya di tiga provinsi selatan berbahasa Melayu-Yawi (Pattani, Yala, Narathiwat) seperti yang dikenal selama ini. Muslim Thailand terserak mulai dari Chiang Mai, Chiang Rai, dan Mae Hong Son di utara, Khon Kaen di timur laut, Tak, Ayutthaya, Nakhon Nayok, Chachoengsao, Chon Buri dan Bangkok di tengah, Phuket, Ranong, Phang Nga dan Krabi di tepi laut Andaman (barat daya Thailand), Muslim di Nakhon si Thammarat, Surat Thani, dan Songkhla, hingga Satun, Pattani, Yala, dan Narathiwat yang berdekatan dengan Malaysia.

Data dari Islamic Committee Office of Thailand (Kana Kammakan Klang Islam) pada bulan Desember 2000 menunjukkan bahwa jumlah Muslim Thailand sekitar 7,4 juta jiwa, dimana 6,3 juta di antaranya bermukim di provinsi selatan, masing-masing Pattani, Narathiwat, Yala, Satun, dan Songkhla dan 700.000 di antaranya bermukim di sekitar Bangkok dan Ayutthaya.

Asal Muslim Thailand juga bervariasi. Ada memang yang berasal dari tiga provinsi di selatan yang berbatasan dengan Malaysia. Ada yang dari Cina, ada yang keturunan Pakistan-India-Persia. Ada juga yang berasal dari Champa, kerajaan kuno yang dahulu berada di Vietnam dan kemudian hijrah ke Kamboja.

Muslim Bangkok dan Thailand Selatan

Ketika bicara tentang Muslim Thai, lazimnya orang langsung merujuk kepada Muslim di Pattani, Yala, dan Narathiwat di Thailand selatan. dengan jumlah sekitar 70% dari total Muslim di Thailand amat wajar bahwa komunitas ini dianggap sebagai representasi Muslim Thai. Padahal secara geografis, etnis dan kultural mereka lebih dekat dengan Malaysia dan tradisi Muslim Melayu. Tak terlalu aneh. Thailand memiliki empat provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Narathiwat berbatasan dengan Kelantan. Yala berbatasan dengan Perak dan Kedah. Songkhla berbatas dengan Kedah dan Perlis, dan Satun berbatasasn langsung dengan Perlis.

Sampai saat ini, bahasa Melayu Pattani (Yawi) adalah bahasa sehari-hari yang digunakan penduduk di Yala, Narathiwat, dan Pattani, di samping bahasa nasional Thai. Sementara itu, penduduk provinsi Satun lebih banyak berbahasa Thai. Bahasa Melayu Pattani amat mirip dengan bahasa Melayu khas Kelantan (Malaysia) dari sisi dialek. Wajah dan cara berbusana mereka juga tak jauh berbeda dengan saudara-saudaranya di Malaysia. Kaum perempuannya umumnya menggunakan jilbab/kerudung khas Melayu dan kaum pria gemar menggunakan songkok (peci), sarung dan memelihara janggut.

Secara historis, Muslim di Thailand Selatan memang tidak berakar secara kulutaral maupun genealogis dengan panduduk Thai yang lain. Dahulu mereka adalah bagian dari warga kerajaan Muslim Pattani yang kemudiaan dianeksasi oleh kerajaan Siam pada abad 18. Imperialisme dan perjanjian antara Inggris Raya dengan kerajaan Siam pada tahun 1909 semakin memperteguh aneksasi ini. Pattani, Yala, Narathiwat, dan Satun tetap dikuasai oleh Siam. Sedangkan Kedah, Perlis, dan Kelantan dikuasai oleh Inggris Raya (yang kemudian menjadi bagian dari Malaysia).

Berbeda halnya dengan Muslim Thai yang tinggal di sekitar Bangkok. Muslim Bangkok adalah komunitas Muslim terbesar kedua di Thailand. Mereka tidak identik dengan Muslim Thailand Selatan kendati sebagian kecil berasal dari Thailand Selatan untuk kemudian hijrah ke Bangkok berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mereka hanya bisa berbahasa Thai seperti orang Thai yang lain. Berpenampilan fisik nyaris sama seperti orang Thai yang lain. Mengaku sebagai bagian dari bangsa Thai seperti orang Thai yang lain. ‘Satu Nusa, Beda Agama’.

Bangkok sendiri adalah ibukota Thailand sekaligus termasuk kota terbesar di Asia Tenggara yang didirikan pada tahun 1782 oleh raja Siam Rama I, menggantikan ibukota Siam sebelumnya, yaitu Ayutthaya. Kota ini didirikan persis di tepi sungai Chao Phraya dan berjarak hanya 40 (empat puluh) kilometer saja dari teluk Thailand. Bangkok kerap dijuluki sebagai Krung Thep alias ‘Kota Malaikat’. Dari sekitar 10 juta penduduknya, 70% di antaranya adalah keturunan China.

Muslim Bangkok bermukim di sekitar kota Bangkok maupun di kota-kota satelit di sekitarnya seperi Ayutthaya, Chacoengsao, Nakhon Pathom, Pathumthani, dan Samut Prakan. Di kota Bangkok saja ada sekitar 570.000 Muslim dengan masjid berjumlah 165 dan imam sejumlah 2.475 orang (dara Islamic Committee of Thailand, Desember 2000). Apabila digabungkan dengan kota-kota satelitnya, Muslim Bangkok berjumlah sekitar 700.000 dengan masjid bejumlah 260 buah. Suatu angka yang cukup signifikan.

Asal Muslim Bangkok bervariasi. Ada yang berasal dari Thailand Selatan, Persia, Arab, Pakistan-India, Bengali, China Selatan – Yunan, ataupun dari Thailand Utara seperti daerah Chian Mai dan Chiang Rai.

Kita dapat mengenal asal etnis Muslim Bangkok dari pilihan tempat tinggal mereka. Muslim di daerah soi Nana (‘soi’ berarti ‘gang’ atau ‘jalan kecil’ dalam bahasa Thai) biasanya adalah keturunan Arab. Muslim di daerah Silom dan Bangrak adalah keturunan Pakistan-India. Muslim di daerah Bangk Kha Lam berasal dari India maupun Afrika. Muslim di Bang Khrua adalah keturunan etnis Cham di Kamboja. Muslim di daerah soi 7 Thanon Petchaburi maupun di Minburi Nongcok berasal dari Pattani dan sekitarnya. Mayoritas Muslim Bangkok adalah Muslim Sunni bermahzab Syafi’i. Mirip dengan dengan kebanyakan Muslim di Thailand Selatan dan juga di Indonesia.

Berbeda dengan Muslim di Thailand Selatan, Muslim Bangkok relative lebih berpendidikan dan baik status sosial-ekonominya. Mereka bekerja hampir di semua wilayah seperti halnya warga Thai yang lain. Menjadi pedagan, pegawai swasta, ataupun menjadi pegawai pemerintah. Komunitas mereka, kendati kecil tetapi tetap solid. Muslim Thailand Selatan secara kuantitas berjumlah besar tapi cenderung miskin, kurang berpendidikan, dan lemah aksesnya terhadap sumber daya kekuasaan di Thailand.

(bersambung ke bagian 2)