Puji syukur atas limpahan rahmat Allah swt pada hamba-hamba-Nya.

Pembaca blog yang budiman, saat ini beberapa anggota keluarga tersayang saya sedang diberi ujian yang, dalam beberapa segi, lebih berat dari yang dialami anggota keluarga yang lain. Dengan ini saya berharap para pembaca sekalian bersiap untuk mengahadapi permintaan dari saya, nanti.

Seorang kemenakan perempuan saya, berusia beberapa minggu yang saya belum pernah berjumpa dengannya, sekarang sedang berjuang mempertahankan hidupnya melalui bantuan selang-selang dan cairan-cairan infus.

Jenna Nouran Beda. Namanya cantik secantik parasnya yang saya lihat di fotonya via BBM yang dikirim oleh ibunya di grup keluarga kami. Di foto itu, selang-selang terhubung ke hidungnya dan semacam alat perekam detak jantung berkabel menempel di dadanya. Matanya terpejam dan dia tampak tenang.

Begitulah keadaannya sejak lahir hingga sekarang. Tidak ada tangis dan tawa layaknya bayi yang lain. Jenna memang berbeda. Jenna memang istimewa. Saat dia masih dalam kandungan, dokter mengetahui bahwa ada hernia di rongga perutnya. Karenanya, dialah yang pertama di antara keluarga kami yang mengalami operasi saat dalam kandungan. Perut sang ibu – sepupu ipar saya – disayat kecil, lalu menyusul perut sang bayi dan prosedur operasi endoskopi dilakukan.

Alhamdulillah, operasi berjalan baik dan beberapa minggu kemudian Jenna terlahir normal (tidak dengan operasi caesar) di rumah sakit di Belgia yang – Allah telah mengaturnya – adalah rumah sakit tempat sang ibu lahir. Namun ujian bagi Jenna, dan terutama bagi orang tuanya, masih berlanjut. Ukuran paru-parunya lebih kecild ari seharusnya dan tubuhnya membengkak karena ada cairan yang entah apa istilah kedokterannya.

Ia kini ada di salah satu rumah sakit terbaik di Eropa di Belanda dan ditangani dokter terbaik dalam kasus ini. Meski demikian, bahkan setelah cairan abnormal dipompa kelua – salah satunya melalui kepalanya (dokter membuat lubang di tempurung kepala Jenna) – dokter belum juga memahami penyebab produksi cairan yang tak normal ini.

Salah satu yang terbaik yang dimiliki Jenna dalam kesendiriannya adalah orang tuanya. Ayahnya, sepupu saya, adalah ayah yang lembut. Saya mengenalnya sangat baik. Kami mengendarai sepeda bersama ke sekolah yang sama saat SMP dulu. Saya tahu bahwa ia sekarang sedang melimpahi hari-harinya dengan doa yang tak terputus untuk mendampingi perjuangan bidadari kecilnya. Sebagai balasan ketabahannya, Allah beberapa kali memberinya keajaiban-keajaiban kecil. Suatu ketika saat sang ayah menunggui Jenna yang terus terpejam dengan selang-selang terhubung ke tubuhnya, tiba-tiba Jenna membuka matanya beberapa saat. Tidak ada yang lebih mengharukan bagi sang ayah selain menatap mata bening anaknya yang sebelumnya lama terpejam. Di waktu lain, sepupu saya ini melihat anaknya sedang menggerak-gerakkan bibir merah mungilnya, seolah sedang mengulum sesuatu atau ingin mengucapkan sesuatu. Allahu akbar!

Jenna memiliki ibu yang juga lembut hatinya. Meski berhati lembut tapi saya menangkap kesan dari kisah-kisah yang diceritakan nenek Jenna (bibi saya) bahwa ibu Jenna adalah wanita yang berhati kuat. Keyakinannya pada apapun kehendak Allah atas putrinya adalah kehendak yang terbaik untuknya tak pernah luntur. Suatu ketika nenek Jenna sangat kuatir dengan kondisi cucunya, hingga pada titik kuatir yang menyesakkan. Ibu Jenna-lah justru menguatkan hatinya dengan mengatakan bahwa Jenna dalam perkembangan yang baik (memang demikian adanya, bahkan dokter terkejut dengan perkembangan positif Jenna yang relatif cepat) dan bahwa Allah selalu mendampingi mereka. Subhanallah…

Perjalanan Jenna sejak dalam kandungan hingga kini, dari Belanda ke Belgia hingga kembali ke Belanda, didampingi bisikan doa, air mata kasih sayang, tatap kelembutan, dan kekuatan hati orangtuanya. Selain itu, dia juga didampingi oleh doa-doa kakek-neneknya, paman-bibinya, dan segenap anggota keluarga kami. Namun demikian, wahai pembaca yang budiman, saya berharap bahwa pembaca sekalian juga mendoakan pada Allah untuk kebaikan Jenna. Tentu saja kebaikan di mata Allah, bukan kebaikan di mata kita manusia.

Itulah yang saya maksud dengan ‘permintaan’ dari saya. Semoga berkenan di hati pembaca untuk mendoakan kemenakan kecil saya Jenna.

Belum lagi selesai saya menulis, salah satu bibi saya yang saya sungguh dekat dengannya, terjatuh karena serangan stroke yang ketiga di luar rumahnya di Yogya. Jatuhnya ini membuat tulang pinggul kirinya patah dan saat ini kami sedang menghadapi pilihan yang diajukan dokter: operasi tulang atau terapi tanpa operasi. Bibi dan paman saya cenderung pada pilihan pertama meski bukan tanpa resiko mengingat bibi saya juga menderita diabetes dan tekanan darah tinggi.

Lagi-lagi, saya mohon pembaca untuk sedikit saja menyumbang detik-detik luangnya membisikkan doa pada Allah untuk bibi tersayang saya. Kita memang menyerahkan semuanya pada Allah Sang Pengatur sehingga harap mohonkanlah doa agar bibi saya selalu dalam ketabahan, kesabaran, dan kekuatan iman menhadapi ujian ini.

Barokallahu fiik, jazakumullah khairan katsir.

JIH, Senin 10/12/12