100_3103Barusan teman lama saya, Pak Budi Suswadi, salah satu staf ahli di perusahaan hard-disk kondang Western Digital, menghubungi saya via whatsapp. Dia masih di Bangkok, saya di Jogja. Pak Budi menanyakan tentang bagaimana caranya pergi ke air terjun Erawan menggunakan bis umum. Saya tersenyum-senyum sendiri. Beberapa menit kemudian kami terlibat dalam percakapan yang memutar ulang memori lama saya.

Ya, memang, saya dulu suka jalan kemana-mana sendiri. Saya pernah cerita mungkin, di bagian lain di blog ini, kalau saya sudah menjelajah ke paling tidak 12 provinsi di Thailand. Ini memang tidak seberapa kalau dibanding total 70-an propinsi di Thailand. Tapi ekspatriat ngeluyur ke 12 provinsi sendirian (seringnya) menimbulkan anggapan yang agak luar biasa, terutama untuk teman-teman Thai saya. Jadilah saya – secara alami – semacam referensi traveling beberapa teman Indonesia yang tinggal di Thailand, sampai sekarang, hehehe… Alhamdulillah, semoga ini bisa jadi tambang amal saya.

Saya menjelaskan kepada Pak Budi informasi pokok tentang bagaimana pergi ke Erawan dari Bangkok naik bis umum. Tentu saja caranya sudah ada di website-website traveling semacam lonelyplanet.com dan lainnya. Tapi beberapa info yang paling bermanfaat untuk para ekspatriat justru tidak muncul di sana. Ini hanya dibagikan di antara teman dan di blog-blog semacam ini.

Biasanya saya suka menulis pengalaman traveling ke suatu tempat secara detil, tapi kini mungkin saya akan membuatnya singkat, meski tidak tega juga memberi porsi sedikit untuk tempat sekelas Erawan National Park yang sungguh memberi kesan yang kuat buat saya pribadi. Nah, penjelasan saya ke Pak Budi yang singkat akan saya perlebar sedikit di bog ini, ya.

Yang sungguh membingungkan adalah, rasanya saya pernah membuat posting panjang dan lebar tentang Erawan. Bahkan saya ingat foto-foto mana yang pasang di posting itu. tapi sekarang posting itu raib. Benar-benar raib. Entah bagaimana bisa? Kalau ada yang menemukan di suatu tempat, di Artik atau Timbuktu misalnya, tolong kembalikan ke saya, ya. Hehehe…

Kwai River (credit: Syafnee)

Kwai River (credit: Syafnee)

Info awal, Erawan adalah taman nasional dengan kekuatan penarik berupa air terjun. Di sana, kita bisa menemukan sungai Kwai, hutan, dan air terjun bertingkat 7 dengan air mengalir yang bersemu biru. Unsur-unsur semacam inilah yang biasanya membuat saya tertarik untuk datang. Dan memang, setelah saya datang sekali, saya datang lagi kesana beberapa waktu kemudian, membawa serta teman-teman MMIT (Masyarakat Muslim Indonesia di Thailand) al ikhwah tercinta.

Baiklah, saya akan memulai, dengan cepat. Kalau kita tinggal di Bangkok, kita bisa pergi ke Erawan dengan bis atau kereta. Karena saya suka bis (karena durasi perjalanan lebih cepat), jadi saya akan cerita tentang bis saja. Rute yang harus diambil: Bangkok (dari Southern Bus Terminal di daerah Taling Chan, di sebelah barat kota Bangkok) – Kanchanaburi City – Erawan National Park. Leg pertama berdurasi 2 jam, leg kedua 1,5 jam. Biaya leg pertama sekitar THB 100, leg kedua THB 40-50.

Tiket masuk ke kawasan hutan nasional Erawan sebesar THB 400 (Rp. 120,000) untuk orang asing. Nah, kalau anda bukan turis tetapi pebisnis/pekerja yang tinggal di Thailand, coba bawa copy working permit anda. Kalau anda beruntung, maka anda bisa mendapatkan harga lokal, kalau tidak salah THB 40-50. Lumayan besar, kan, bedanya? Saat bis masuk ke halaman parkir Erawan, sopir akan menghentikan bis di gerbang lalu petugas naik dan mengutip uang tiket ke penumpang. Jadi bersiaplah pada saat itu.

Tenda setia (credit: Syafnee)

Tenda setia (credit: Syafnee)

Akomodasi? Buat saya paling asyik camping. Saya biasa bawa tenda sendiri. Tapi kalau anda tidak bawa peralatan camping, anda bisa menyewa di kantor national park. Sewanya sekitar TH 90-100 per tenda yang bisa muat untuk 5-6 orang. Lokasi camping sudah ditentukan, dan yang paling strategis buat saya adalah di tepi sungai Kwai yang berair jernih. Pemandangannya subhanallah….. indah.. .

Selain camping, ada juga bungalow. Sewa bungalow antara THB 800 – 4000 tergantung ukuran bungalow. Nah, untuk ini, anda harus melakukan reservasi alias booking jauh-jauh hari sebelumnya.

Apa saja yang bisa dieksplor di sana? Pertama, kita bisa menikmati pemandangan sungai Kwai. Sungai ini cukup besar, berair jernih, dan bersambung ke dam berpengatur debit sehingga sungai kadang pasang, kadang surut. Kalau sedang surut, kita bisa nyemplung di tepi sungai dan menikmati pijat refleksi kaki di atas batu-batuan sungai.

The swimming locals (credit: syafnee)

The swimming locals (credit: syafnee)

Lalu, yang utama, kita bisa trekking sepanjang sungai lain yang nantinya bermuara di sungai Kwai. Sungai ini lah tempat di mana air terjun tujuh tingkat Erawan berada. Dari bawah kita mulai dari tingkat satu, dan lanjut makin ke atas (mendati bukit berhutan) ke tingkat tujuh. Perlu waktu sekitar satu jam untuk sampai atas, tapi ya itu tergantung kecepatan masing-masing trekker.

Yang membuat air terjun dan sungainya ini berbeda adalah warna airnya yang kebiru-biruan dan sangat jernih. Tiap tingkat air terjun akan membentuk kolam yang bisa dimanfaatkan para turis untuk berenang. Di kolam-kolam alam itu juga banyak kita lihat ikan-ikan mirip ikan mas yang berenang berkelompok dan jinak. Kalau kaki kita kita masukkan ke air, ikan-ikan ini akan ‘menggigiti’ kulit kaki. Jadi ini semacam fish spa alam. Jangan khawatir, mereka bukan karnivora. Efek terparah yang bisa mereka buat adalah kegelian di kaki yang luar biasa yang bisa membuat orang terbahak-bahak. Itu saja.

Fish spa service provider (credit: syafnee)

Fish spa service provider (credit: syafnee)

Akhir pekan biasanya air terjun Erawan ramai. Turis lokal dan asing banyak yang nyemplung dan berenang di kolam alam air terjun. Turis asing yang tak tahu diri biasanya berenang hanya berbikini, padahal tempat ini sebetulnya dianggap suci oleh orang Thai dan pengunjung mesti berpakaian sopan untuk menghormatinya. Ini jurus saya untuk menghindari mereka: Sabtu malam bermalam di tenda di tepi sungai Kwai, lalu esok harinya (Ahad) pagi-pagi sekali, sekitar jam 7, saya ke air terjun tingkat satu atau dua, terserah saya. Pada saat itu tidak ada SEORANG PUN di air terjun, jadi saya bisa renang sepuasnya di air alam kebiruan nan jernihh bersama ikan-ikan Erawan. Bagaimana kedengarannya? Perfect!

Selain itu, ada juga walking track alam, yang menembus hutan dan akan selesai kita jelajahi dalam waktu sekitar 30-45 menit. Jalan setapak sudah dibuat dan kita tinggal menyusurinya saja. Track ini akan berakhir di lapangan parkir Erawan. Selama berjalan kaki, kita akan disuguhi nyanyian burung dan berbagai spesies tanaman mulai dari bambu hingga ke pohon-pohon berkayu keras.

The fall belongs to you, just you (creadit: spooky genie)

The fall belongs to you, just you (creadit: spooky genie)

Makanan? Di kaki bukit dekat air terjun tingkat pertama, ada sederatan warung makan. Tidak ada yang secara khusus memasang logo halal. Saya, seperti biasa, akan memesan som tam (salad pepaya muda), kao niaw (nasi ketan), dan pladook (ikan lele bakar). Wah, bagi saya, kombinasi ketiga makhluk ini memang maut, eh, yahut, maksud saya. Dari dulu saya suka sekali somtam, kao niaw, dan pladook yang saling berdampingan. Saat teman-teman MMIT (Masyarakat Muslim Indonesia di Thailand) berkunjung ke sana, beberapa dari mereka memesan mi instan berlogo halal yang diseduh di warung penjualnya.

Kantor pelayanan turis juga menyewakan sepeda seharga THB 20 sepuasnya. Anda bisa bersepeda berkeliling halaman parkir beraspal yang sangat luas. Di sekitar halaman parkir itu, ada warung-warung, kafe, pasar tradisional. Anda bisa membeli teh Thailand atau es krim maupun oleh-oleh khas Erawan di warung dan kafe tersebut. Oya, kalau anda menggunakan bisa, jangan lupa bahwa bis terakhir berangkat dari halaman parkir Erawan ke Kanchanaburi city pada pukul 16.00 (jam 4 sore).

Erawan trip bersama jamaah MMIT (credit: Ustadz Dicky)

Erawan trip bersama jamaah MMIT (credit: Ustadz Dicky)

Itu saja yang bisa dinikmati di taman nasional Erawan. Semoga sekelumit info ini bisa membantu calon pelancong dari Indonesia ke tempat indah ini. Semoga setelah melihat keindahan alam, kita juga teringat ke penciptanya dan bersyukur dalam-dalam.

Wassalam.

Syafnee
7/2/13